Langkah ku ragu, menapaki rumput yang kini basah karena hujan semalam, embun masih setia menghiasi seakan ragu untuk pergi, kabut pun ikut menutupi. Aku menatap langit pagi, dengan mata sembab yang masih lekat dengan muka pias ku, tersenyum penuh arti aku menatap Arunika yang mulai muncul dari balik gunung di sekitar ku.
" Ya tuhan dosa apa yang telah aku perbuat pada semesta, hingga luka terlampau dalam menusuk jiwa. Aku lelah, sungguh jika aku tak dapat membuka mataku lagi, aku akan sangat menikmatinya", ujarku seakan mencurahkan isi hati pada angin yang mulai menyapa kulit ku meninggalkan sedikit rasa menusuk rongga.
Niscala namanya, gadis manis yang cantik dengan mata hazel dan rambut berwarna hitam pekat. gadis yang di paksa kuat oleh keadaan. Jiwa nya lelah badanya pun begitu, namun semesta tak pernah berkata iya saat dia ingin memilih kembali.
Dia sendiri, tidak ada tempat yang layak untuknya bercerita, dia hanya dapat memeluk dirinya sendiri saat luka luka itu hadir kembali, obatpun tak pernah ia dapatkan, hanya langit malam yang dapat menghibur nya, menatap bintang yang terkadang hilang di telan mendung.
Kini kembali dia goreskan luka mendalam pada raganya, jiwa jahatnya muncul memberikan kalimat penenang yang akan merusak raga. Goresan goresan itu muncul, sakit? Niscala tak merasakan nya sedikitpun. Hanya ada perasaan lega yang menghiasi jiwanya.
All Rights Reserved