MR TALL?

MR TALL?

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 9, 2023
Kehidupan pendidikan yang bertahap dengan proses yang panjang.Berawal dari seorang murid sekolah dasar hingga bisa menjadi sekarang, seorang mahasiswa.Di mana merupakan perjalanan yang benar-benar menguras waktu seakan mengalir tanpa aturan. Hal yang paling benar tapi gak benar juga, pastilah ungkapan seorang teman setelah lulus mengungkapkan kata "TAK TERASA YA UDAH LULUS AJA ". 3 tahun itu terasa namun saat kelulusan melanda, 3 tahun benar bukan apa-apa saat sadar mengenakan pakaian putih abu-abu yang udah di coretkan spidol yang berisi penuh tanda tangan teman sebaya. KULIAH, kalian mungkin tak asing dengan kata ini.Itu benar, kuliah merupakan proses pembelajaran lanjutan setelah sekolah menengah atas. Hai mr tall, gue benci fisik lo tapi menyukai sifat lo, can i tetap menganggumi?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • 36 days with you {saida} [End]
  • Part Of Class
  • Tell The World I Love U
  • DIA ADALAH NAJA
  • IPA & IPS
  • serpihan hati
  • My Prince ????(BrightWin)  END +spesial Chapter
  • Slice Of Life - YiZhan
  • The Fall of Ladykiller

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines