SECOND TIMES

SECOND TIMES

  • WpView
    LECTURES 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadContenu pour adultesEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., déc. 25, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Katanya jangan jatuh cinta sama sahabat sendiri,karena saat kehilangan,kita akan kehilangan keduanya. Kekasih dan sahabat. Hari itu,ketika semua merubah segalanya,seolah persahabatan luluh lantak menjadi rasa yang akan berharap. Perasaan ragu dan bimbang ingin mengutarakan dan di pendam. Hari di mana semuanya benar-benar dimulai,antara dua hati yang terbelenggu atas nama 'PERSAHABATAN'. Hari itu di tempat yang berbeda,percakapan yang selalu terurai dalam sebuah obrolan jarak jauh,dua anak manusia yang selalu mencari. Obrolan yang masih malu-malu,sekedar menanyakan kabar satu sama lain. "Kamu dimana?" Dua kata yang menjadi kalimat panjang setelahnya. Hari-hari berlalu setelah pertanyaan itu,berjalan dengan seiring waktu,makin terjalin dekat,cerita menguar begitu saja,menciptakan banyak ocehan berdua,namun tidak ada yang berubah tentang rasa yang dianggap rasa peduli terhadap sahabat. Berbeda dengan perempuan itu,rasanya tidak lagi sama,ada harapan lebih dalam hatinya yang tetap terpendam. Dia simpan agar semuanya tetap sama,agar mereka berdua tetap bersama walaupun harus menjadi teman cerita. Lelaki dengan nama yang penuh dengan asmara,lelaki dengan mata sipit dan senyum manis itu mampu membuat detak yang tidak pernah berhenti di rasakan oleh Regina Anjelika yang sekarang mulai tersenyum membaca pesan dari lelaki itu. Asmara heidyan. Lelaki yang sudah menjadi sahabat baik Gina,mereka adalah masa lalu yang tidak pernah benar-benar terjadi,dan sekarang mereka memilih berteman dekat,walaupun komunikasi mereka tidak terlalu sering terjadi. Tapi mereka tau bahwa mereka saling peduli. Mara lebih sering menanyakan keberadaan dan kabar Gina,tapi Gina tidak terlalu ingin menanggapi pertanyaan Mara yang sama terus setiap minggunya,Gina terlalu takut,takut akan hatinya yang tidak bisa mengontrol perasaan suka terhadap sahabatnya.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu