Ketentuan Takdir

Ketentuan Takdir

  • WpView
    Membaca 576,322
  • WpVote
    Vote 41,631
  • WpPart
    Bab 49
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jun 15, 2025
(Saquel ARSYAD DAYYAN) Terbit "Atas dasar apa kamu datang dan mau menikahi ku?" "atas dasar kepercayaan saya kepada Allah yang sudah menunjukkan kamu." "Aku tidak mencintai mu." "jika Kalam Takdir mu adalah saya, maka kamu bisa apa?" Kaif Az-zayn Al-haddi. Bisakah dirinya mampu membuat Khalisa Azana Jennara, jatuh cinta kepadanya. Cover by: pinterest Ikuti Kisah mereka!! Follow sebelum membaca. Cover by: Pinterest ____ Mau tau lanjutannya yuk langsung baca, dan ikuti ceritanya....
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#294
fiksiislami
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Cinta Dalam Iman
  • Perihal Mengikhlaskanmu [TAMAT]
  • Permata Yang Tersembunyi✅[ Belum Revisi ]
  • Terlatih ✓
  • TAKDIR RAHASIA
  • Garis Takdir Adinda (END) ✓
  • Antara Hati dan Iman ✅
  • Karena Kamu Rumahnya

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan