Ada yang bersuara, lalu hilang ditelan riuh kekacauan.
Ada pula yang tak pernah bersuara, hilang ditelan riuhnya masa.
Sajak-sajak yang pernah digoresnya
kini hanya menjadi lembaran tanpa pemilik.
tertinggal, tanpa nama, dan tanpa arah pulang.
Sempat bersuara, lalu dibungkam.
Sempat menulis, lalu semua memilih buta.
Ia tumbuh di antara dua dunia yang tak pernah benar-benar saling menerima.
Di bangku sekolah, luka datang tanpa suara.
Di rumah, kehilangan terjadi tanpa penjelasan.
Ia menulis lebih keras dari sebelumnya.
Dunia tetap tidak mendengar.
Dan saat semuanya mereda, yang tertinggal hanyalah kata-kata, serta seseorang yang tak pernah kembali.
Dan aku di sini, mengumpulkanmu sedikit demi sedikit.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang