Still Alive

Still Alive

  • WpView
    Reads 274
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 21, 2024
"Ini nggak adil!" teriak Zila pada gundukan tanah yang baru, "kenapa kalian semua meninggalkanku sendiri. Kenapa?" Isak tangis yang sangat menyanyat hati terdengar di sebuah pemakaman. Di mana para pelayat sudah pergi semua. Meninggalkan Fazila yang masih setia di samping makam sang kawan. "Apa aku ikut kalian saja ya?" pertanyaan gila keluar begitu saja. Hidupnya sudah hancur. Buat apa ia masih bertahan. Bila hanya derita yang didapatkan. Akan tetapi, ia ingin membuktikan bahwa sekeras apapun hidup, masih layak untuk dijalani. Ia akan berjuang dan melanjutkan perjuangan sang kawan. Namun, ada sisi di mana Zila ingin berhenti. Karena semua ini tak mudah untuk dijalani. Terlalu kejam dan juga memuakkan. Lalu, langkah apa yang akan dipilih Zila. Akankah ia mempertahankan hidup, atau memilih menyusul ketiga temannya?
All Rights Reserved
#3
zila
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To the Happy Ending✓
  • Faith in You : The Seeker
  • Love Devil Revisi : Of Devils and Gods Who Loved
  • FINDING SOULMATE
  • Technology
  • ROSE'S  FOR THE DEATH. (SUDAH  TERBIT.)
  • BLOOMING [END]
  • TRAVELING : world of novel (ON GOING)
  • ALZEA (TERBIT)

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines