Retak di Punggung Sulung
"Punggung Shani adalah tempat kami bersandar, tanpa pernah kami sadari bahwa punggung itu sudah lama mulai retak."
Bagi ketiga adiknya, Shani bukan sekadar kakak. Dia adalah pengganti Ibu yang tangannya selalu beraroma bawang, yang suaranya adalah alarm paling menenangkan, dan yang punggungnya adalah sandaran paling kokoh di Graha Senja. Shani adalah matahari yang memastikan tidak ada sudut rumah yang kedinginan, meski ia sendiri harus terbakar demi memberi cahaya.
Namun, tidak ada kekuatan yang abadi.
Gita, si bungsu yang memilih kuliah kedokteran untuk melindungi keluarganya, mulai menyadari ada nada yang sumbang dalam detak jantung rumah mereka. Di balik rapihnya daster Shani, ada napas yang sering tersengal. Di balik laci meja rias yang terkunci rapat, tersimpan rahasia medis yang pahit: Shani sedang tidak baik-baik saja.
Ketika sang "Matahari" mulai meredup dan punggung kokoh itu mulai patah oleh beban yang ia pikul sendirian, mampukah Gita memaksa kakaknya untuk berhenti menjadi martir? Bisakah Feni dan Gracia menerima kenyataan bahwa pelindung mereka kini justru yang paling butuh perlindungan?
Ini adalah kisah tentang empat saudari yang belajar bahwa cinta tidak selamanya soal menjaga, tapi juga soal berani berbagi luka. Karena sekuat apapun seorang sulung, ia tetap butuh tempat untuk pulang.