BLACK UMBRELLA 2 [TERBIT]

BLACK UMBRELLA 2 [TERBIT]

  • WpView
    Reads 3,398
  • WpVote
    Votes 1,463
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 9, 2024
[SUDAH TERBIT] Lagi dan lagi, hujan turun menerpa bumi. Menangis ketakutan tatkala mendengar amarah semesta, dan merengek meradang seperti anak kecil yang kehilangan kasih sayang. Tanpa sadar, bumi yang tenang kembali mencekam, bergemuruh memburu merintih tangisan. Dan lihat, tak satupun orang yang berani menentangnya. Semuanya bersembunyi di balik atap-atap mereka untuk berlindung, sembari menarik selimut yang tebal untuk menghangatkan tubuh. Tetapi, aku tak takut mati! Aku membiarkan diriku bersama bumi yang marah dan menangisi kehidupan ku bersama derasnya rintihan hujan. Bukan aku berani, tetapi karena aku kehilangan orang yang paling ku sayang, bahkan untuk kesekian kalinya. Karena itu, biarlah payung hitam yang menjadi tempatku untuk mengadu seperti di masa lalu, hingga semesta menakdirkan yang terbaik untukku. "Luka di masa lalu sudah cukup aku rasakan. Tetapi, mungkinkah ada kebahagiaan yang tersisa untukku di masa depan?" _Shadboy_
All Rights Reserved
#1
payunghitam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • ALEYA~~
  • Angkasa (Forget Me Not)
  • Debur Ombak
  • DENNIES
  • Rainbow
  • Aksara & Hujan (TERBIT)
  • ELGITA  (TERBIT)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines