Virtual Crush

Virtual Crush

  • WpView
    Reads 958
  • WpVote
    Votes 421
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 4, 2024
Kata orang cinta itu buta. Tak bisa dirasakan oleh indra penglihatan, namun dapat dirasakan oleh hati. Bagaimana kalau cinta itu benar-benar buta? Menyukai seseorang yang kita sendiri tidak tahu wujudnya seperti apa. Dunia maya itu penuh dengan kepalsuan, sehingga banyak orang menertawakan dan menganggap kita tidak normal ketika menyukai seseorang yang dikenal di dunia maya. Cemoohan dan kata-kata lain yang tak mengenakkan ia anggap sebagai kicauan burung belaka. Ia tak peduli jika orang yang dia sukai di sosial media jauh dari ekspektasi. Ia hanya memedulikan isi otak orang terebut yang begitu jenius di bidangnya. Ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang dirasa dapat melengkapi kekurangannya di bidang linguistik. Ia hanya bisa di bidang eksakta dan payah di bidang linguistik jatuh hati pada seorang laki-laki yang sangat pandai di bidang linguistik tetapi payah di bidang eksakta. Suatu kombinasi yang pas (apabila) mereka bersatu.
All Rights Reserved
#534
lesserafim
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • PROTAGONIST'S LOVEMOMETER (TAMAT)
  • DREAM ✓
  • Kosan Malapetaka
  • Virtual distancing
  • Another World: Become the Maid of the obsessed male lead
  • Ruang Kelana [ SUDAH TERBIT ]
  • Not Me & Not Mine
  • Cuaca

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines