SENANDIKA

SENANDIKA

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 9, 2024
Mungkin bagi kebanyakan orang definisi kebahagiaan itu,di ukur dari seberapa sering kita tertawa,tersenyum dan ceria. Lantas bagaimana dengan luka yang ditunjukan melalui senyuman? Akankah itu juga merupakan kebahagiaan? Begitupun dengan alam semesta yang menjadi saksi dari banyaknya bahagia dan sedihnya manusia dalam memeluk luka. Membuatnya kadang ikut tertawa dan terluka. Namuan ia tak bisa berbuat apa-apa. Ya.. karena ia di buat hanya untuk menjadi saksi oleh sang pencipta. "Bukankah tak ada yang abadi di dunia ini? Jangan takut mati dan cukup cintai diri sendiri." Cakrawalaspan 2023 | Arjuna dan kisahnya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MEMANUSIAKAN MANUSIA (TAMAT)
  • Waktu?
  • Penulis Luka [ON GOING]
  • US AND LAKE COMO ITALY [ON GOING]
  • Painful By Accident (Completed)
  • Meneroka Jiwa 2
  • 【𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆?】
  • Sembunyi Dalam Senyum [COMPLETED]
  • DIARY DEPRESIKU
  • Sudut Luka Nazea

Cerita ini sudah terbit dengan nomor ISBN 978-623-446-532-7 KDT BAR 2023 dan bisa dipesan di akun Instagram @honeyllaw ------------------------------------------------------------------------- Manusia adalah makhluk yang lemah. Namun, dengan akal pikirannya mereka bisa membuat sebuah keajaiban ... di mana pesawat bisa terbang, setrika bisa panas, lampu bisa bercahaya, kapal bisa berlayar, radio bisa bersuara. Mereka menciptakan sesuatu yang nyata tersebut dengan akal pikiran atas kehendak-Nya. Lantas, mengapa manusia masih dikatakan makhluk yang lemah? Manusia tetaplah manusia. Sejelas apa pun penglihatannya bisa saja dia buta, sebanyak apa pun bicaranya bisa saja dia bisu, sepeka apa pun pendengarannya bisa saja dia tuli, sejauh apa pun langkahnya bisa saja dia lumpuh, sekuat apa pun genggamannya bisa saja dia terelai. Jadi, manusia yang lemah itu membutuhkan manusia lain. Tak mungkin mereka mampu hidup sendirian, karena ketika jatuh terkadang mereka harus saling merangkul untuk kembali bangkit. Tapi, apa yang terjadi jika ketika dia jatuh dan yang lainnya malah meninggalkan pergi? Maka yang tersisa hanyalah sebuah 'luka' yang timbul akibat rasa tak menyenangkan, dan kemudian hari luka itu bisa saja berevolusi menjadi 'dendam' yang mendalam. Hendaknya mengevakuasi diri sendiri ke yang lebih baik saat berinteraksi dengan sesama. Perlakukan yang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan, karena hal yang dianggap kecil bisa saja bagi manusia lain itu adalah hal yang besar. Itulah yang disebut sebagai memanusiakan manusia. 23/07/22

More details
WpActionLinkContent Guidelines