Serpihan Hati (END)

Serpihan Hati (END)

  • WpView
    LETTURE 618,337
  • WpVote
    Voti 22,317
  • WpPart
    Parti 30
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione gio, mar 7, 2024
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
"Saya mohon maaf, tidak ada kantong janin di rahim ibu. Jadi bisa dikatakan kalau ibu belum hamil" Aku meremas rok yang kukenakan saat dokter kandungan menyampaikan hal itu. Sedih dan takut jika keluarga besar suamiku menanyakan kehamilanku. Aku melihat ke arah suamiku. Seperti biasa, dia hanya diam dengan ekspresi wajah yang datar. Sudah tiga tahun ini kami berusaha mendapat momongan tapi selalu berakhir kegagalan. Ini adalah kesempatan terakhir bagi pernikahanku. Jika aku tidak bisa memberikan keturunan maka aku harus melepas Rajendra dengan dua pilihan, perceraian atau dimadu dengan wanita pilihan keluarganya.
Tutti i diritti riservati
#115
getaran
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Suddenly Marriage
  • Turun Ranjang
  • Bersemi Di Ujung Perpisahan
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • REGATHAN [END]
  • My Sweet Husband
  • KAMU YANG KUSEBUT RUMAH (END-MASIH LENGKAP)

"Mi, kemarin Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Dia ingin meminang kamu untuk menjadi istri anaknya," ucap Mama yang membuatku seketika langsung menghentikan kunyahan. "Mama kalau bercanda jangan pas lagi makan dong, nggak lucu kalau tiba-tiba aku tersedak terus meninggal," ucapku sambil tertawa. "Mama serius." Aku langsung melihat wajah mamaku, dari matanya aku bisa melihat keseriusan. Mendadak aku jadi merinding. "Jangan bercanda mulu dong, Ma, mana mungkin Pak Kades tiba-tiba melamar aku buat anaknya. Lagian aku nggak kenal sama anaknya Pak Kades," ucapku masih menyangkal kalau yang mamaku katakan bukanlah candaan. "Mama nggak lagi bercanda, Mi, Mama serius." Tenggorokanku serasa tercekat ketika mendengar perkataan Mama, "Ma, jadi ini serius?" Mama mengangguk dan itu membuat tubuhku seketika melemas. "Apa ini alasan Mama minta aku cepat-cepat pulang?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Mama. "Terus Mama jawab apa? Mama nolak 'kan?" tanyaku mulai was-was. "Ayah kamu sudah menerima, katanya nggak enak menolak tawaran Pak Kades. Kapan lagi 'kan kita bisa besanan sama orang terpandang?" Rahangku hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar jawaban Mama. "Nanti malam Pak Kades datang lagi ke sini sekalian bawa anaknya, mereka mau melamar kamu secara resmi." Aku semakin gila setelah mendengar sambungan perkataan Mama.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti