My Heart's Beloved: Ava

My Heart's Beloved: Ava

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 30, 2024
"Berhenti bertingkah, sekarang umur mu sudah mendekati 20 tahun. Pergi pantau keadaan, sekalian culik nelayan tampan untuk kau nikahi" Ava menatap lesu kearah baba yang saat ini menatap nya tegas. "Ayolah baba. Aku tidak ingin Menikah dan itu tidak akan membuat pulau kita hancur" ucap ava santai sambil mengelus bulu rubah api dengan surai nya yang berwarna merah api yang bergelung manja dipangkuan ava. "Kuharap kau tidak lupa dengan ramalan ku beberapa hari yang lalu, ava." Ucap nya menghela nafas pelan. "Tapi apa harus dengan menikah? Kita bisa melawan mereka yang ingin menghancurkan pulau kita siapapun itu. Kita selalu menang melawan mereka para penjajah. baba" ucap ava sedikit kesal dengan takdir nya. "Cinta bisa mengalahkan segalanya, benci karna cinta , pengkhianat dan rasa sakit yang diderita manusia disaat dilanda cinta membuat seseorang memiliki kekuatan yang tak bisa dihentikan dan membuat orang itu menjadi gila, cinta bisa menjadi malapetaka dan kebahagiaan tiada Tara"
All Rights Reserved
#96
ava
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • ARKASYA
  • ALGRAVANO
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • The Unwritten Rule [21+]
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)
  • My Diary
  • Untitled || Kevin Sanjaya

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines