30 Days With Cindy

30 Days With Cindy

  • WpView
    Reads 260
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 20, 2025
"Gini, aku suka sama kamu, jadi bisa nggak bales perasaanku?" Cindy secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya. "Nggak," jawab laki-laki itu tegas. "Kalau gitu aku minta 30 hari dari kamu. Siap-siap aja karena dalam jangka waktu tersebut aku bakal terus ngerecokin kamu!" Kehadiran Cindy di hidup Candra sungguh mengganggu. Tak ada hari tanpa Cindy. Tapi entah mengapa, perasaan nyaman perlahan mulai muncul di hati Candra. Tapi, di hari ketiga puluh Cindy mengucapkan kalimat perpisahan untuk Candra. Candra tak mampu berkutik walaupun sebenarnya ingin menahan. Hingga sebuah kabar menghancurkan dunianya. Start : 26 Desember 2023 End : -
All Rights Reserved
#193
cindy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • MISSION TO GET HIM - HAEWIN
  • ARADIS (ON GOING)
  • MALVEN ALVITO [Terbit]
  • MEMORIA (COMPLETE)
  • The Nareksa || Lee Haechan ft. NCT DREAM
  • I Never Loved My Ex [End]
  • Love Maze (Short Story) ✔
  • LUKA PUNYA CERITA

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines