Dingin

Dingin

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 2, 2024
Di taman abstrak kehidupannya, Davis melangkah di antara kabut tebal yang menyelimuti keinginan paling dalam. Masa lalu yang kelam dan beban emosional yang menekan, bagaikan medan perang dalam hatinya setiap harinya. Namun, di tengah gempuran badai emosi, takdir mempertemukannya dengan individu-individu luar biasa yang menghiasi lembaran kehidupannya dengan beragam kisah. Setiap langkahnya menjadi seperti kanvas yang terpenuhi dengan corak warna-warni, bukan hanya keputusasaan yang selama ini melandanya. Davis mulai memahami bahwa hidup adalah panggung di mana setiap orang membawa ransel emosi yang beragam. Ia melihat, bukan lagi hanya tentang dirinya sendiri, melainkan cerita-cerita manusia yang mengelilinginya. Seakan-akan, hidupnya berubah menjadi koleksi kisah inspiratif dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Ia tidak lagi hanya menjalani hidup untuk mencari jawaban dari teka-teki pribadinya, tetapi juga untuk menggali makna dari setiap tawa, tangis, dan rintihan yang terpampang di wajah dan hati orang-orang di sekitarnya. Baginya, kini kehidupan adalah perjalanan yang penuh warna, diwarnai oleh kehadiran orang-orang baik yang menjadikan setiap hari sebagai lembaran cerita yang tak terlupakan.
All Rights Reserved
#239
emosional
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Felicia> Januari With You
  • Tentang Ki-Ta
  • Di Antara Kenangan dan Waktu (On Going)
  • Menunggu Waktu, Menemukan Dirimu
  • LIPS
  • Alexa
  • 𝓙���𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪

‎Hendra... ‎seorang anak SMP yang bahkan tak lagi bersekolah. ‎Kulitnya legam, senyumnya pelan, ‎hidupnya penuh hinaan dan tatapan jijik. ‎ ‎Ia hanya ingin dagangannya laku... ‎dan pulang tanpa luka yang terlalu dalam. ‎ ‎Hingga suatu hari, ‎datanglah seorang gadis seperti bidadari. ‎Felicia. ‎ ‎Gadis cantik bermata sipit, keturunan kaya, ‎berjalan pelan ke arahnya... ‎lalu bicara dengan suara paling lembut yang pernah ia dengar. ‎ ‎Felicia tidak takut, tidak jijik. ‎Ia menggenggam tangan Hendra... ‎menemani dagangannya, duduk di sisinya, ‎dan mencintai dia-yang bahkan tak pernah mencintai dirinya sendiri. ‎ ‎Hari demi hari, Felicia menjadi cahaya. ‎Membuat Hendra tersenyum. Membuatnya percaya... ‎bahwa seseorang sepertinya bisa dicintai... bisa berarti. ‎ ‎Tapi cinta seperti Felicia tak datang untuk selamanya. ‎ ‎Dulu, seorang kakek pernah berkata, ‎"Kalau suatu hari... ada seseorang yang datang padamu, ‎seseorang yang mustahil untuk hadir dalam hidupmu... ‎tapi dia datang, menoleh, tersenyum, lalu duduk di sebelahmu, ‎biasanya... dia hanya dikirim untuk sebentar saja. ‎Untuk membuatmu merasa dicintai, ‎untuk menyembuhkan hatimu yang diam-diam patah. ‎Lalu setelah itu... dia akan pergi. ‎Bukan karena tak cinta... ‎tapi karena Penciptanya memanggil pulang." ‎ ‎Benarkah... Felicia akan pergi? ‎Apakah cinta sehangat itu... hanya datang untuk dikenang? ‎Dan bila benar ia akan hilang... ‎mampukah Hendra mengucap selamat tinggal... pada satu-satunya cahaya dalam hidupnya? 💔 ‎.

More details
WpActionLinkContent Guidelines