Semesta Berhak Bahagia

Semesta Berhak Bahagia

  • WpView
    Leituras 376
  • WpVote
    Votos 224
  • WpPart
    Capítulos 21
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jan 17, 2024
Perihal kebahagiaan? Aku tidak pernah tahu hal itu, aku tidak tahu caranya untuk bahagia. Aku terlahir dengan nasib yang menyedihkan. Bumi tak pernah menerima kehadiranku, dia selalu membuat hidupku penuh dengan rasa sakit, pahit, dan juga penuh luka. Tapi bunda bilang, "aku tidak boleh pergi sebelum tuhan memanggilku. Katanya tuhan akan membenci hambanya yang lebih memilih pergi tanpa ia panggil." Cukup bumi saja yang membenciku, tuhan jangan. Aku selalu bertanya-tanya kepada semesta, "mengapa aku terlahir di bumi, sedangkan bumi sangatlah membenciku?" Namun semesta menjawab dengan cara menghadirkan Airlangga Bumi Pradipta di kehidupanku yang kelam. Dia sesosok manusia yang selalu menjadi tempat aku bersandar, tempatku untuk menumpahkan segala rasa sakit ataupun rasa duka pada diriku. Aku selalu berharap di setiap langkah ceritaku selalu ada nama Airlangga di dalamnya. Tetaplah bertahan Airlangga, dan tetaplah di sisiku untuk menjadi penopang ragaku yang penuh dengan luka.
Todos os Direitos Reservados
#3
shanum
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Friend's Zone's
  • LUKA!
  • Segitiga Bermuda
  • Nathalea
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • ALEANGGA [On Going]
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Interweave
  • Obstinate

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo