Lovely (Orine)

Lovely (Orine)

  • WpView
    Reads 17,477
  • WpVote
    Votes 1,456
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 30, 2026
"Olineeee.. makasih ya buat semuanya" • • • • • • • Itu adalah kalimat paling menyebalkan yang tak akan pernah bisa gue lupakan Oline Emanuel Vanisa, anak bungsu dari pasangan Oniel dan Indah memutuskan untuk merantau ke kota Solo sendirian di usianya yang baru menginjak 15 tahun. Di kota kecil inilah Oline berharap ia bisa menikmati masa-masa indahnya di SMA, mendapatkan kekasih, dan menjadi anak yang dapat membanggakan nama baik ONDAH FAMILY Tapi apakah semua itu akan berjalan mulus sesuai kemauannya? Atau malah terjadi yang sebaliknya? ONLY GOD KNOWS *Disclaimer, karya fiksi belaka!! please jangan di bawa ke real life yaaa 🙏🏻. Cukup halu saja huehuehuehue🤙🤙
All Rights Reserved
#48
girls
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines