We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Lyra Dan Pertanyaan Filosofisnya

Lyra Dan Pertanyaan Filosofisnya

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 9, 2024
WpInfo
Non-Fiction
"Jika Tuhan memberimu kesempatan untuk hidup sehari lagi setelah mati, kau mau pilih hari apa?" "Kenapa harus ada surga dan neraka?" "Apa itu kebahagiaan?" Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut kecil seorang Lyra. Terkadang ia mendapatkan jawabannya dari orang lain, kadang ia justru menjawabnya sendiri. Tak jarang orang-orang disekitarnya dibuat kagum dengan jawabannya, tak jarang juga dibuat geram karena terlalu mengawang-awang. Bukankah bertanya-tanya mengenai kehidupan ini menyenangkan? Siapa peduli jika misal jawaban dari pertanyaannya salah atau tidak ketemu? Bukankah itu gunanya kita berpikir dan terus mencari sejak nenek moyang dulu? Menurutmu, kenapa manusia repot-repot membuat banyak pengorbanan demi sampai ke bulan? Tak lain dan tak bukan ialah untuk menjawab pertanyaan. HIGHEST RANKS 🏆Top 1 Eksistensialisme
All Rights Reserved
#197
kebahagiaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Archetypal [Terbit]
  • Jarak Dan Waktu (TERBIT)
  • "Sebenarnya Apa Yang Kau Harapkan Dari Takdir?"  [END]
  • Stop It, Darka! [END]
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • 𝓐𝓷𝓽𝓪𝓰𝓸𝓷𝓲𝓼 𝓕𝓪𝓶𝓲𝓵𝔂

[WARNING! 18+] [DISTURBING, VIOLENCE, TRIGGER CONTENT!] * Apa yang istimewa dari hidup? Jika pertanyaan itu diberikan pada Ruby, maka jawabannya tidak ada. Memang tidak ada yang istimewa. Berkabut kelabu semua. Rumah, tempat yang seharusnya jadi sahabatnya untuk terus hidup itu sudah lama rusak. Keluarga, yang seharusnya jadi lentera juga sudah lama padam, yang tersisa hanya dingin, beku, dan sesak. Jadi, semua hal di dunia ini bagi Ruby hanya susunan konstelasi kosong yang sudah lama mati dan gelap gulita. Hingga siang itu, di bawah pohon rambutan tua itu, seorang anak laki-laki seusianya datang menyerobot duduk di samping Ruby seperti orang gila---atau mungkin memang demikian karena ini rumah sakit jiwa. Dia mengulurkan tangan dan berkata, "Aku Navi Renggana. Kenapa wajahmu ditekuk terus? Mau bercerita? Tenang saja, aku ini orang gila." ©️Mayaothra 240721

More details
WpActionLinkContent Guidelines