Story cover for Patience  by gepenk_lopee
Patience
  • WpView
    Reads 17,158
  • WpVote
    Votes 1,246
  • WpPart
    Parts 9
  • WpView
    Reads 17,158
  • WpVote
    Votes 1,246
  • WpPart
    Parts 9
Ongoing, First published Jan 01, 2024
Hujan turun pelan, merembes ke tanah yang mulai lembab. Langit kelabu, seperti menggambarkan sesuatu yang sudah lama terkubur-kesepian, harapan yang pudar, dan luka yang tak pernah sembuh.

Samuel berdiri di antara dua rumah, tapi tidak satupun yang benar-benar menjadi miliknya. Seumur hidupnya, dia hanya mengenal satu tempat: rumah neneknya. Di sana, dia tumbuh tanpa janji-janji manis, tanpa pelukan seorang ayah, tanpa suara lembut seorang ibu. Dunia mengajarkannya satu hal: bertahan adalah kewajiban, bukan pilihan.

Lalu, segalanya berubah. Pria yang seharusnya menjadi ayahnya datang, menawarkan sesuatu yang disebut keluarga. Kata-kata itu terdengar indah, tapi kosong. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang terasa lebih asing dari jalanan yang biasa ia lewati sendirian.

Tatapan mereka penuh tanya, seolah kehadirannya adalah kesalahan yang tak pernah bisa mereka terima. Langkahnya ringan, tapi hatinya berat. Ia ingin percaya, ingin menjadi bagian, tapi batas antara harapan dan kenyataan terlalu jauh untuk dijangkau.

Kesabaran, katanya. Sabar untuk diterima, sabar untuk dipahami. Tapi sampai kapan?

Sebab, bahkan keberadaannya sendiri terasa seperti sebuah kesalahan.



1/1/24 || foto berasal dri pin ||
               {slow up}
All Rights Reserved
Sign up to add Patience to your library and receive updates
or
#210acuh
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END) cover
Aseano Samudra [End] cover
acalapati  cover
Before 180 Days ✓ cover
Another Pain (END) ✔ cover
Rahasia Sang Samudra [Complete] cover
ANGEL (END) cover
Sejenak Luka cover
SIMETRI cover
Titik Hitam Dalam Nurani [END] cover

Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)

59 parts Ongoing

💢Stop plagiat "Aku hanyalah rumah yang tak pernah dipilih untuk pulang." "Hidup tanpa bisa mengingat apapun, apa masih bisa disebut hidup?" Karel tumbuh sebagai anak yatim piatu, hidup di antara orang-orang yang ia temui setiap hari namun tak pernah benar-benar terasa dekat. Yang ia bawa hanya satu harapan sederhana, memiliki rumah selayaknya. Harapan itu seolah terjawab ketika ia diangkat menjadi bagian dari keluarga Winata. Namun alih-alih disambut sebagai keluarga, Karel justru harus lebih dulu menghadapi penolakan dari saudara-saudaranya sendiri. Setiap langkahnya menjadi pembuktian, setiap keberadaannya selalu dipertanyakan. Dan ketika ia hampir percaya bahwa usaha dan kesabarannya akan berbuah, takdi kembali mengambil alih. Ia dipaksa menerima kenyataan yang jauh lebih menyakitkan, bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tak bisa ia diperjuangkan, selain hanya bisa pasrah. SEBELUM LANJUT JANGAN LUPA FOLLOW DULU..