Hujan turun pelan, merembes ke tanah yang mulai lembab. Langit kelabu, seperti menggambarkan sesuatu yang sudah lama terkubur-kesepian, harapan yang pudar, dan luka yang tak pernah sembuh.
Samuel berdiri di antara dua rumah, tapi tidak satupun yang benar-benar menjadi miliknya. Seumur hidupnya, dia hanya mengenal satu tempat: rumah neneknya. Di sana, dia tumbuh tanpa janji-janji manis, tanpa pelukan seorang ayah, tanpa suara lembut seorang ibu. Dunia mengajarkannya satu hal: bertahan adalah kewajiban, bukan pilihan.
Lalu, segalanya berubah. Pria yang seharusnya menjadi ayahnya datang, menawarkan sesuatu yang disebut keluarga. Kata-kata itu terdengar indah, tapi kosong. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang terasa lebih asing dari jalanan yang biasa ia lewati sendirian.
Tatapan mereka penuh tanya, seolah kehadirannya adalah kesalahan yang tak pernah bisa mereka terima. Langkahnya ringan, tapi hatinya berat. Ia ingin percaya, ingin menjadi bagian, tapi batas antara harapan dan kenyataan terlalu jauh untuk dijangkau.
Kesabaran, katanya. Sabar untuk diterima, sabar untuk dipahami. Tapi sampai kapan?
Sebab, bahkan keberadaannya sendiri terasa seperti sebuah kesalahan.
1/1/24 || foto berasal dri pin ||
{slow up}
"Ran, pulang, bapak udah sayang sama kamu."
°°°
Kegagalan seolah telah menjadi sahabat karib bagi Hiran-anak ketiga dari empat bersaudara yang lahir tepat di ambang keruntuhan keluarganya. Ketika kemewahan menjelma jadi kenangan dan tawa berubah menjadi diam panjang, Hiran hadir ke dunia. Bagi sebagian orang, ia adalah pertanda malapetaka. Pembawa sial, begitu mereka menyebutnya.
Hiran tumbuh dalam keheningan yang tak pernah benar-benar ia mengerti, tapi selalu ia terima. Ia belajar membaca raut kecewa, menghafal letak luka yang tak terucap, dan memupuk kesadaran bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Pada usia delapan belas, cinta adalah kemewahan yang tak pernah ia harapkan datang. Ia tahu diri-ia tahu batasnya.
Namun, semua keyakinannya mulai runtuh ketika Arabella hadir-gadis dari dunia yang tak pernah Hiran pijak. Anak konglomerat dengan senyum yang mampu menembus dinding-dinding luka. Sekali tatap, cukup untuk mengguncang hati yang selama ini ia jaga mati-matian.
Dan meski perasaannya tumbuh tanpa diundang, Hiran tahu satu hal pasti: cinta ini tak boleh hidup. Ia akan menguburnya, sebelum harap kembali menyakitinya.