Don't Play With Dice : RED ROOM

Don't Play With Dice : RED ROOM

  • WpView
    Reads 727
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 30, 2024
Suara teriakan samar-samar menembus distorsi, diikuti oleh deringan rantai dan benda tumpul menghantam daging lunak. Bayangan di layar tertawa, tawa tanpa humor yang mengiris telinga seperti kuku runcing. Gadis itu mulai memohon, suaranya putus asa dan hancur, tapi tak ada belas kasihan di Red Room. Hanya ada kepuasan bengis saat penonton tak terlihat bersorak dan melempar koin virtual, membiayai tarian penderitaan ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Goodbye Alaska [END]
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Lucid dream
  • EXPOSED [ GxG ]
  • Hide And Bleed
  • Seven Rules
  • Allovela [TAMAT]
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • If we can together
  • MASKED MAN

[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] "Woi! Anak pungut!" "Dari mana aja? Jam segini baru pulang?!" Gadis yang merasa dirinya dipanggil itu menghentikan langkahnya, menunduk, menyeka darah yang sedikit mengalir dari sela bibirnya. Dia menoleh, menatap Bramasta tajam. "Peduli apa papa sama Rhea?" Rheana Adhisty gadis yang punya seribu cara percobaan bunuh diri. Tetapi entah apa yang salah, semua cara yang ia lakukan selalu gagal. Hingga suatu hari, Alaska datang sosok yang semakin mengacaukan usahanya untuk mati. "Ngapain naik ke sana?" "Cari mati, Lo?" Rhea enggan mendengarkan suara berat itu, ia masih menatap nanar trotoar yang dipenuhi kerumunan orang untuk menyaksikannya dirinya jatuh dari rooftop yang berada dilantai tujuh. "Buat apa gue hidup? Enggak guna juga." "Sampai jumpa di alam baka, Alaska."

More details
WpActionLinkContent Guidelines