Don't Play With Dice : RED ROOM

Don't Play With Dice : RED ROOM

  • WpView
    Reads 753
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 30, 2024
WpInfo
Fiction
Mystery
Suara teriakan samar-samar menembus distorsi, diikuti oleh deringan rantai dan benda tumpul menghantam daging lunak. Bayangan di layar tertawa, tawa tanpa humor yang mengiris telinga seperti kuku runcing. Gadis itu mulai memohon, suaranya putus asa dan hancur, tapi tak ada belas kasihan di Red Room. Hanya ada kepuasan bengis saat penonton tak terlihat bersorak dan melempar koin virtual, membiayai tarian penderitaan ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red Devil
  • Seven Rules
  • Charoque Boarding School
  • Lucid dream
  • Hidden Subject [Tamat]
  • The MAN in Jail
  • Hide And Bleed
  • MASKED MAN
  • OUT OF CONTROL {END}
Red Devil

COMPLETED [12/12] Emma memandangi jasad yang di depannya. Tubuh tanpa sehelai benang itu bersimbah oleh darah. Darah yang keluar melalui kepalanya itu menimbulkan bau yang sangat busuk. Emma menutup mulut dan hidungnya. Masih dengan perasaan terkejut atas apa yang terjadi, tiba-tiba ia mendengar suara dentuman pintu yang sangat keras. Keringat mengucur keluar deras dari dahinya. Jantungnya berdegup dengan kencangnya. Saat ingin berlari meninggalkan tempat busuk ini, sudah berdiri di belakang seseorang dengan topeng merah, mata hitam dan senyuman yang menyeringai lebar. Mengerikan. Di tangan kanan orang tersebut terdapat sebuah pisau dapur. Emma pun bergidik ngeri menghadapinya. Tanpa aba-aba orang bertopeng itu menebas leher Emma seketika. ©Red Devil (2015) - Dandy Wahyudi

More details
WpActionLinkContent Guidelines