Secret Admirer

Secret Admirer

  • WpView
    Membaca 16
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jan 7, 2024
WpInfo
Fiksi
Romansa
Seseorang pernah berkata padaku untuk tidak menyatakan perasaanku pada seseorang yang aku suka. Kenapa? tanyaku. Apa karena aku perempuan? Memangnya seorang perempuan tidak boleh menyatakan perasaannya terlebih dahulu? Bukankah akan lebih baik jika aku menyatakan perasaan terlebih dahulu? Karena dengan begitu aku bisa tahu apakah seseorang tersebut mencintaiku juga atau tidak? Jika dia menolak, maka aku bisa memutuskan untuk berhenti mencintainya. Bukankah itu terdengar lebih baik? dan juga aku tidak menyiksa diri dengan rasa penasaran yang ada dipikiranku. Tapi? Itu isi pikiranku sebelum aku terjebak dalam situasi, dimana diamku dapat membuat seseorang yang aku cinta berada dekat denganku. Tanpa aku mengungkapkan perasaanku, aku sudah mengetahui bahwa bukan aku seseorang yang dia cinta. Untuk saat ini aku berusaha merahasiakan perasaanku padanya, dan berencana untuk mengatakannya saat kelulusan nanti. Hanya agar dia tahu, bahwa aku pernah menaruh hati padanya. Tidak lebih. Tapi sebelum kelulusan, entah bagaimana dia bisa tahu bahwa aku menyimpan rasa padanya. Dan seperti yang kita tahu... Dia menjauh. Lagipula apa yang aku harapkan? Tentu saja dia akan menjauh, karena memang bukan aku yang dia inginkan. Benar? Tidak apa-apa, setidaknya dia tahu perasaanku. Ucapku menghibur diri sendiri. Dan sekarang... Waktuku untuk berhenti mencintainya. ------
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#29
wanda
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • You're Here, But Not For Me
  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • My Secret Crush
  • ANANTA [COMPLETED]
  • NAVILLERA
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • He is not My Best Friend (End)
  • Rahellitha

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan