A WEEK IN BALI

A WEEK IN BALI

  • WpView
    Reads 207
  • WpVote
    Votes 90
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 14, 2024
Bali, pulau kecil yang indah, pulau yang konon katanya selalu menjadi tempat untuk memanjakan mata dan pikiran karena keindahan alamnya, terutama pantainya. Agnes Rahajeng, perempuan berdarah Jawa yang kerap disapa Aggy itu rupanya memilih untuk berada di Bali dalam waktu seminggu kedepan untuk berlibur dari hiruk pikuk kota. Namun, siapa sangka jika Agnes bertemu dengan Arghie-sang mantan kekasih, pada malam perayaan tahun baru di sebuah beach club dengan pacar barunya. Sempat terjadi cekcok antara mereka berdua, Agnes yang merasa terbakar akibat ulah dan ejekan dari Arghie, memilih untuk minggir, ia merasa haus dan memilih untuk menegak satu minuman yang ternyata adalah whiskey. Whiskey tersebutlah yang membuatnya hilang kendali, membuatnya terjerat dalam sebuah insiden yang tak diinginkannya. Akankah Agnes mampu untuk menghadapi masalah yang telah ia perbuat? Mampukah Agnes membayar sebuah kesalahan yang tak sengaja ia buat itu?
All Rights Reserved
#541
london
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mr. & Mrs Albrecht
  • Love in the Corner
  • TRICKY IN LOVE
  • Revenge [End]
  • CAPITAL LETTERS
  • The Billionaire Prison
  • Mantan Kakak Ipar Rasa Pacar
  • Jay, I Love You [ TERBIT ]
  • Ex or New? [REVISI]

Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines