[END] Sunday Morning

[END] Sunday Morning

  • WpView
    Reads 5,018
  • WpVote
    Votes 779
  • WpPart
    Parts 58
WpMetadataReadComplete Fri, Jun 28, 2024
3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bisnis dari nol sembari mengejar kebahagiaan versi masing-masing. Di sela dengung halus mesin espresso pagi hari dan wangi secangkir kopi yang mengepulkan asap, mereka memaknai kembali garis tipis cinta dan persahabatan, mengurai benang kusut hubungan tak berujung, serta menyelami dalamnya jiwa manusia. Benarkah mereka melangkah maju dan menemukan kebahagiaan? Ataukah mereka sebenarnya hanya putar balik untuk kembali pada kekacauan? Welcome to Sunday morning, where love is brewed one cup at a time.
All Rights Reserved
#128
romansaindonesia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Coffee Shop Serendipity [ ON GOING ]
  • I Latte You
  • Ruang Biru [ON GOING]
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • This City
  • I Can't See You
  • The Chaos After You [ COMPLETE ]
  • Love In A Coffee Shop [Bisa Baca Di Karyakarsa]

Daffin Antasena tak pernah menyangka bahwa rehat sebulan sebelum tur albumnya justru membawanya kembali pada satu hal yang belum pernah benar-benar ia tinggalkan: masa lalu. Kembali ke kota tempat ia tumbuh dan jatuh cinta untuk pertama kalinya, Daffin menemukan sebuah kedai kopi yang cukup eksis dan menarik perhatiannya karena konsepnya terasa akrab dan nyaman untuknya yang perlu menjauhi kerumunan. Hingga ia menyadari satu hal yang membuat jantungnya tercekat. Pemilik kedai itu adalah Lea, mantan kekasihnya. Hubungannya dengan Lea berakhir baik-baik saja. Mereka sepakat untuk mengakhiri hubungan karena tak cukup kuat untuk bertahan dalam jarak, setidaknya menurut Daffin. Namun Lea yang kini berdiri di hadapannya bukanlah Lea yang ia kenal. Gadis yang dulu sensitif terhadap kafein itu kini hidup di antara pekatnya kopi dan aroma espresso. Lebih dari itu, sikapnya pun dingin seolah Daffin hanyalah pelanggan biasa. Tentu hal itu menimbulkan tanda tanya baginya. Apa yang terlewat selama Daffin mengejar mimpinya? Dan mengapa masa lalu yang dirasa selesai dengan baik justru menyisakan pertanyaan yang tak pernah ia ketahui jawabannya? Pertemuan yang tak direncanakan itu membuka kembali luka, kenangan, dan perasaan yang belum benar-benar padam. Di antara pahitnya kopi dan manisnya kenangan, Daffin dan Lea harus memutuskan, apakah cinta lama memang ditakdirkan untuk kembali, atau hanya indah sebagai kenangan? - Coffee Shop Serendipity -

More details
WpActionLinkContent Guidelines