SEPERTI NAMAMU

SEPERTI NAMAMU

  • WpView
    Odsłon 1
  • WpVote
    Głosy 1
  • WpPart
    Części 1
WpMetadataReadW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja pon., sty 8, 2024
... hari-hari berikutnya aku terus di hantui perasaan tidak enak pasca naskah itu hilang. Juga tentang ponsel yang sudah lama tidak lagi berdering. Aku sudah sangat tidak bersemangat melakukan apa pun selain berusaha kembali mengenang dan mengenang. Tentu perintah untuk merelakan itu ada, tapi aku belum siap menerimanya. Dan rela selalu identik dengan menerima. Menerima artinya berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Aku belum mampu membiasakan perasaanku untuk bersikap biasa biasa saja. Atau mungkin tidak akan? Hatiku sudah tertaut di sana. Akan sangat sulit untuk menariknya kembali, tapi seperti jalan ini yang terus berliku. Mau tidak mau aku harus menerima. Harus. Aku ingin sembuh, dan merelakan adalah keniscayaan. Tidak ada jalan lain untuk tumbuh selain merelakan apa-apa yang sudah jauh. [Mba, bisa tolong beri aku waktu dua hari? Biar aku persiapkan diri untuk merekam jalan ceritanya.] Ku kirim pesan ini ke Mba Vena. Dia punya kebiasaan baik tidur tepat pukul sembilan dan sekarang nyaris pukul sepuluh malam. [Baik, Mba menunggu dua hari yang akan datang, Hanum.] [Loh, belum tidur, Mba?] [Notifikasi dari kamu bikin Mba bangun.] Ah, iya. Aku lupa. Mba Vena sensitif suara. Dia bisa langsung bangun mendengar suara apa pun. Lama aku menatap ponsel. Melihat gamang tombol rekam. Aku tidak pernah sekalipun merekam suara, tapi ada sepuluh daftar rekaman di sana.
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • Misteri- US
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • Kembar Berbeda || Haechan [TERBIT]
  • My (boy) Friend | Bbyu Vol.1
  • CLOSER
  • IN THE END ✔
  • Maaf' (Revisi)
  •  HAZELA
  • ANGKASA
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)

Suatu hari kita dipertemukan oleh hujan, di bawah hujan, kita saling pandang. Kau ibarat payung, membuatku merasa teduh setiap kali dingin mengigilkan. Kita adalah sepasang rindu tanpa ikatan. Seringkali aku membatin, haruskah ku tanyakan perihal rasamu, mengapa kau selalu ada memenuhi segala kebutuhanku. Tuhan teramat baik. Tanpa waktu yang lama, kita akhirnya dipertemukam lagi, kali ini pertemuan yang sangat romantis. Kau memintaku menjadi pendamping hidupmu. Aku merasa beruntung, masih bernafas hingga detik ini. Tidak secuilpun, bahwa hidup bersamamu akan menjadi sebuah kenyataan. Lagi - lagi Tuhan teramat baik, dia berikan aku kesempatan membina keluarga sederhana bersamamu, bukan lagi hujan yang menciptakan romantisnya, namun pelukanmu adalah sebuah keromantisan yang setiap saat ku rasakan. Baru sejenak, karena Tuhan begitu sayang kepadaku. Sepulang dari Honeymoon, Tuhan menguji dengan perpisahan kita setelah honeymoon yang terasa begitu manis. Ingin ku sesali hari itu, andaikan saja begitu bathinku selalu bersuara. Namun, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan, sembari menunggu benihmu yang tumbuh di perutku bisa menatap dunia. Aku tak sanggup lagi membaca deary yang ku pegang saat ini, yang ternyata adalah deary ibuku sendiri. Perlahan semuanya berlalu. Aku kehilangan arah dan tujuan. Semua berubah, kehidupanku. Hingga pada akhirnya, aku tersadarkan. Bahwa tidak ada surat ibu ke koran, tiada deary, tidak ada ibu angkat yang jahat, juga tidak ada kisah cintaku bersama Alex. Orang yang ku benci selama ini adalah ibu, perempuan yang melahirkanku. Perempuan yang masih bisa menatapku dengan penuh cinta, disaat suaminya, Ayahku. Harus meregang nyawanya karenaku. Semua ulahku, andai saja aku mendengarkan permintaan ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan Arkan, ini tidak terjadi. Pasien skizofrenia ! Aku melangkah gontai, mengikuti langkah kaki perawat yang memanggilku.

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści