Please, Comeback

Please, Comeback

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 2, 2024
"Kamu jaga diri baik-baik ya!" ucap lelaki itu dengan suara parau nya, membuatku meneteskan air mata lebih banyak. "A-aku nggak bisa terus ada di samping kamu." dia mengelus pipiku yang sudah basah tak karuan. Orang-orang di sekeliling kami hanya menatap dan ikut menangis. "Jangan telat makan, jangan suka insecure karena kamu cantik." "Oh iya, satu lagi. Tolong maaf-in Mama kamu ya." Sudah, cukup. Itu semakin membuatku sakit. Dia pikir aku tidak bisa hidup tanpa nya. Tentu saja, Tidak! Itu kata-kata terakhirnya buatku, tak lama setelah itu, dia menutup matanya dan tersenyum lalu bersautlah decit monitor CPU di samping pacarku tadi. Aku meraung pasrah atas keputusan Tuhan, aku mengelus rambutnya dan berbisik di telinganya. "Aku janji nurutin semua yang kamu bilang. Asal kamu juga janji, kamu selalu ada di hati aku."
All Rights Reserved
#4
pleasecomeback
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Black Rose
  • Story Nisya
  • Waiting To Be Ended
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • Anna's Secret [END]
  • Backstreet: Life After Breaking Up
  • OUR PROMISE
  • MORALLESS
  • Pelakor? Yes, I'm!
  • BarraKilla

"Nanti siang Sarah datang. Dia ingin bermain bersama kakaknya." La Lembah memandang pesan singkat di layar ponselnya. Seperti ada yang menaburkan bubuk cabai di kelopak matanya, tetapi air matanya sudah terlanjur kering sejak lama. "Saya anak tunggal." Ketik Lembah. "Jangan egois. Dia adik kamu." Tawanya terdengar, tetapi bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan semua orang. Tawa menyakitkan yang syarat akan kesakitan. "Dia anak papa, bukan adik saya." "Berkali-kali saya ingatkan, La Lembah adalah anak tunggal. Tidak punya saudara, termasuk adik dan juga kakak." "Dia anak papa, berarti juga adik kamu." "Dia memang anak papa, tapi bukan adik saya." "Bahkan jika bisa, saya ingin berhenti menjadi anak Anda." Matanya perih, tetapi tak ada satu tetes pun yang ke luar dari sana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines