"Ayah!! Betapa teganya kau lakukan itu padaku!" isaknya. Tangan resi Wisrawa terjulur. Ingin rasanya memeluk putra kesayangannya. Namun rasa malu yang sangat menghalangi laju tangannya. "Ayah tidak berani meminta maaf padamu, nak. Ayah berdosa besar pada kalian." katanya lirih. Air mata menetes dari matanya. "TIDAAKK!! Bunuh saja aku, ayah! Oh, masihkah aku bisa memanggilmu ayah setelah perbuatan bejatmu padaku ?" Resi Wisrawa terkesiap mendengar kata-kata Danaraja. Ia menunduk. "Ayah tidak berhak mendapat panggilan ayah darimu. Ayahmu kotor dan bernoda.." "Bagus kalau kau mengakuinya !! Kalau begitu kita bertarung secara satria. Aku bukan anakmu, kau bukan ayahku. Ayo, keluarkan kesaktianmu! Aku tidak takut padamu !" Resi Wisrawa terkejut walaupun dalam hati ia sudah memperkirakan respons anaknya ini. Danaraja menghunus pedangnya. "Ayo kita bertarung ! Kau atau aku yang mati!" Ia menyerang ayahnya. Resi Wisrawa mengelak. Danaraja menyabetkan pedangnya kekiri kekanan, ia terus memburu kemana ayahnya pergi mengelak. Energi murni yang keluar dari tangannya menderu-deru dengan kekuatan berkali lipat akibat amarah yang membumbung tinggi. Kepalanya serasa terbakar oleh emosi. Ia merasa tidak hanya kehilangan kekasih yang dicintainya, tapi juga harga dirinya sebagai laki-laki. __________________________________ Betapapun sempurnanya manusia, manusia tetap manusia yang memiliki kelemahan. Ia seorang pertapa tua yang mengikuti sayembara seorang putri cantik untuk putranya. Tapi pergaulan erat antar laki-laki dan perempuan membutakan pikiran dan nafsu. Kisah cinta bercampur dengan ilmu falsafah tinggi antara kedua manusia yang nantinya melahirkan manusia angkara murka yang paling terkenal di dunia, Rahwana.
More details