After The Incident

After The Incident

  • WpView
    Reads 103
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 11, 2024
mampir aja dulu, kalau nyaman lanjut! Mau sombong dulu hasil karya sendiri wk This is my first story^^ Bukan magnet tapi semoga tertarik:) Radellia Zhivan Wijaya, gadis SMA yang terjebak dalam permainan sahabatnya sendiri membuat ia dibenci oleh orang yang sangat dicintainya. Bahkan kedua orang tua dan abangnya juga membenci gadis tersebut sampai pada akhirnya ia dikucilkan di negeri orang dan tinggal bersama kakak tertuanya yang sedang mengurus bisnis milik papanya Kejadian tersebut membuat mental Radellia terguncang. Sejak meninggalkan Indonesia, keadaan gadis itu sangat kacau. Hal itu membuat Derry-kakak tertua Radellia hampir gila, karena hanya Derry yang tahu kondisi adik tercintanya. Mati-matian Derry membantu adiknya untuk bangkit kembali. Dan usahanya pun membuahkan hasil meski gadis itu tak lagi menjadi gadis ceria tapi menjadi gadis dingin Bagaimana Radellia menjalani hari-hari berikutnya? Dan bagaimana reaksi keluarganya melihat perubahan Radellia setelah pulang ke Indonesia? Penasaran? Yuk baca ceritanya:)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • NATASYA✔
  • Your Presence_END
  • About My Life
  • TWO DIFFERENT PROPERTIES || on going (revisi)
  • ARDHANI [ On-going ]
  • Game of Hearts [REVISI]
  • this is me
  • When Two Hearts Collide
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines