My Pookie

My Pookie

  • WpView
    Reads 218
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 2, 2024
Citra hanyalah perempuan biasa yang mengagumi laki-laki selayaknya perempuan pada usianya. Laki-laki yang tampan, tinggi, dan baik, itu adalah gambaran laki-laki idaman Citra. Pikirnya, mungkin ia akan bertemu dengan tipe laki-laki seperti itu waktu dia sudah bekerja, sudah dewasa dan mapan. Namun tak dia sangka, hal itu terjadi terlalu cepat baginya. Dia masih SMA, belum dewasa, dan mapan malah bertemu dengan laki-laki yang bisa membuatnya jatuh. Jatuh sedalam mungkin. Tapi tidak jatuh sendirian, melainkan bersama laki-laki itu. "Tanpa lo ngomong pun, gue udah tau kalau lo jatuh, Cit. Jangan khawatir seperti lo jatuh ke jurang yang curam. Tapi siap-siap aja ya, Cit, karena ini jurang yang tak berdasar, lo butuh seseorang buat nemenin lo, dan seseorang itu adalah gue." Laki-laki itu berujar seenak udelnya, pikir Citra menutupi gengsi. Tapi yang dibilang laki-laki itu benar adanya, Citra telah jatuh hati. Tidak pernah terlintas di pikirannya akan menyukai laki-laki yang terlihat sangat sulit digapainya. "Baik-baik ya, my Pookie." Ujarnya lagi sembari menepuk pelan kepala Citra. Seulas senyum terbit di wajah tampannya. Bagaimana bisa Citra tidak mencintai laki-laki ini? Oh, Ya Tuhan. Senyum malaikat-Mu satu ini sungguh membuatku selalu terdiam dan tak berkutik.
All Rights Reserved
#9
bilal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • DANADYAKSA
  • Tingkat Tiga
  • Viona Allexa Miller
  • CINTA YANG NYATA
  • Bad Papa
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}
  • LOVE in SILENCE
  • ATHALARIQ
  • About feelings   (selesai)

Pernikahan Jamila Istari (30) dan Nadiem Arif Prakoso (38) sudah tiga tahun kandas, huru-hara dipicu oleh ketidak puasan Ami yang merasa kurang segala-galanya. Di zaman ini, di ekonomi yang begini, dia harus bertahan dengan Nadiem yang luntang-lantung setelah bisnisnya gulung tikar? Yang benar saja! Ami itu high maintenance! Belum lagi dia juga ikut menanggung hutang ibunya. Plus, ibu dan kakak Nadiem yang pelit pula. Di bayangan Ami, terbebasnya ia dari Nadiem bisa membuat kehidupannya lebih baik. Kenapa tidak? Toh, Ami punya gelar, kompeten, supel, cantik, ada pula harta gono-gini yang harus Nadiem berikan untuknya. Sudah sangat amat cukup, Ami bisa bekerja lagi dan menikmati uangnya seorang diri. Tapi nyatanya, tidak. Tiada beda, justru lebih berat, lebih parah, lebih menjengkelkan. Ami pusing, mual, mumet, apalagi setiap kali putrinya, Kanaya yang masih berusia tujuh tahun itu merengek-rengek ingin bertemu si Papi. "Mami ayooooooo! Kita cari Papi, aku mau Papi, kangen Papi, mau ketemu Papiiiiii!" "Papi kamu udah punya anak baru." "Haaaa! Mamiiiiii!" Rasanya Ami ingin menjerit dan bergulung-gulung saja!

More details
WpActionLinkContent Guidelines