Thalia tak sedang mencari siapa-siapa. Ia hanya ingin duduk di kursi yang sama, di café yang sama, berharap langit tak seberisik isi kepalanya. Tapi lalu, ada seorang pria dengan buku tua dan tatapan yang tak menghakimi-muncul di hadapannya. Bukan untuk menyelamatkan, tapi sekadar hadir. Dan kadang, kehadiran cukup untuk membuat seseorang mulai pulih. Ini adalah kisah dua jiwa yang tak sempurna. Tentang potongan-potongan masa lalu, kursi kosong yang jadi saksi, dan pertanyaan sederhana: mungkinkah kita saling menyembuhkan tanpa saling tahu sepenuhnya?
More details