Buku&Pena

Buku&Pena

  • WpView
    LECTURAS 28
  • WpVote
    Votos 10
  • WpPart
    Partes 16
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, feb 8, 2024
WpInfo
Fanfic
Alea duduk di dekat jendela, entah kenapa duduk di dekat jendela selalu menjadi tempat favoritnya. Apalagi saat ia sedang memiliki masalah seperti saat ini. Di temani oleh buku dan pena di atas mejanya. Ia melirik pada buku yang bertuliskan -Note Book- yang tak lain adalah buku catatannya. Selama ia hidup, Alea seringkali menuliskan perjalanan hidupnya pada buku tersebut. -----------------------------------------
Todos los derechos reservados
#159
duniakerja
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ALYA
  • The Cold Husband✅
  • Ex or New? [REVISI]
  • 244 Days to Hurt You
  • AZRAELLA
  • Kilometer Terakhir
  • A. N. D. A. R. A_ "Aurelia Never Dances Alone Ruin Awaits"
  • BarLea (On Going)
ALYA

Alya melangkah menuju sekolah dengan langkah pelan. Jalanan pagi itu sepi, hanya suara burung berkicau yang menemani. Biasanya, ia akan berangkat lebih awal untuk membaca buku di perpustakaan, tapi hari ini hatinya terasa berat. Sesampainya di sekolah, suasana berbeda jauh dari rumahnya. Di sini, Alya bukanlah anak yang diabaikan. Ia dikenal sebagai murid berprestasi, ketua klub sains, dan siswa yang sering membawa nama sekolah ke ajang perlombaan. Teman-teman dan guru-guru menghormatinya. Saat ia memasuki kelas, seorang temannya, Dinda, langsung menghampirinya. "Alya! Kamu udah siap buat ujian hari ini? Kayaknya ini bakal susah banget!" kata Dinda panik. Alya tersenyum kecil. "Aku sudah belajar semalam. Semoga saja bisa mengerjakan dengan baik." Dinda menghela napas. "Duh, enak banget jadi kamu. Pinter, rajin, selalu menang lomba. Orang tuamu pasti bangga banget, ya!" Ucapan itu membuat senyum Alya menegang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa tidak peduli berapa banyak piala yang ia menangkan, orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli? Alya hanya tertawa kecil. "Iya, semoga saja." Gmn kelanjutan nya? Langsung baca aj yaa See you, semoga suka sama ceritanya >_- Dilarang keras plagiat karya gw⚠️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido