PUZZLE (PSH)

PUZZLE (PSH)

  • WpView
    Reads 115
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 23, 2024
WpInfo
Fanfic
Enhypen
Terlihat bahagia bukan berarti tidak pernah terluka, Terlihat Ceria bukan berarti hidupnya baik baik saja. katanya semakin terang cahayanya semakin gelap pula bayangan nya mungkin kata itu bisa sedikit mendeskripsikan keluarga Junaedi, dimana keluarga mereka yang kata orang adalah keluarga bahagia justru kenyataan nya keluarga itu mencoba merakit lagi puzzle kebahagiaan di hidup mereka. "mama kenapa ga pernah adil sama adek?" "apalagi yang harus mama lakukan supaya bisa menjadi ibu yang baik?" "Gina sudah merelakan mimpi gina untuk adik adik, gapapa Gina ikhlas" "Gimana caranya dapet beasiswa kuliah biar gak ngerepotin mba Gina dan mas Raden? " "Mas Raden juga bisa capek tapi liat adik adik mas Raden bahagia itu udah cukup buat mas" semua punya masalahnya sendiri ada yang ingin dimengerti dan ada yang harus dimengerti. rumit, setelah sang kepala keluarga tiada puzzle kebahagiaan di keluarga ini mulai hilang satu per satu. ini yang kata orang cemara?
All Rights Reserved
#92
sicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Detik Ketika Daun Jatuh
  • Cerita Laut | Senan & Safa [End]
  • 2. How to share?
  • PROBLEM || KIM SUNOO (REVISI)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Luka Naren. ( SUDAH TERBIT )
  • Our Emergency Calls
  • Luka Si Bungsu [HIATUS]
  • Is It Home ?

Setiap anak tak pernah meminta untuk dilahirkan. Mereka hadir karena keputusan orang tuanya. Seperti kata Papa dalam buku diary yang ditulisnya, "Kamu bukan kesalahan. Kamu adalah anugerah dan hadiah terindah yang Tuhan berikan. Kamu-Kara Laksana Banyu Alam-anak Papa. Jagoan kecil pemilik hati Papa seutuhnya." Meskipun garis takdir membawa Kara berpisah dengan papa, bahkan sebelum ia sempat mengenali sosoknya, Kara percaya bahwa papa begitu mencintainya. Tanpa syarat, tanpa tapi. Kara tetap menjadi anak yang bahagia, ia bangga menjadi anak papa. Hingga kisahnya harus dimulai ketika ia dikirim ke Bandung, hidup seorang diri di usianya yang masih sangat muda. Berperang dengan segala hal yang membuatnya mengerti apa arti hadir sesungguhnya. Kara yang awalnya tak tahu apa itu rasa "sakit", berakhir menjadi pecandu luka yang membuatnya terperangkap dalam kata "baik-baik saja".

More details
WpActionLinkContent Guidelines