ANDROMEDA
  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 25, 2025
Ia memeluk erat tubuh pria dewasa itu , ia menyeka air matanya yang sejak tadi sengaja ditahannya, perlahan ia meletakkan tubuh tak bernyawa itu . Cahaya matanya memancarkan sinar mematikan, perlahan ia berdiri, menatap sosok tinggi di depannya, sosok yang dulu dia puja puja. Andromeda mengangkat senjatanya, ia mengarahkan pistolnya ke arah laki-laki yang sangat ia cintai, " gua benci sama Lo !!! " . Sedangkan laki-laki yang sedari tadi mematung di tempatnya, tak mampu berkata-kata lagi, sekujur tubuhnya kaku , tangannya penuh dengan darah , air matanya mengalir begitu saja. Dor ..... Satu tembakan mendarat tepat di dadanya. Ini kah akhirnya? Ini kah akhir dari semua ini ?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 360 and Still Me
  • Sunyi yang Menyatukan
  • ABLUVION {COMPLETED}
  • 12 Titik Balik (END)
  • Bad Psychopath Boyfriend
  • GREENSTA [END]
  • Lelaki yang Menyimpan Senja di Matanya
  • Gadis Dandelion
  • I'm Sorry (Done)
  • Become an unknown extra character in the novel

Violetta Lanora Adinata pergi tanpa pamit-meninggalkan cinta pertamanya, sahabat-sahabat yang pernah jadi rumah, dan serpihan kenangan dari masa putih abu-abu yang tak selalu manis. Tak ada kata maaf, tak ada salam perpisahan-hanya kepergian yang sunyi, dibungkus diam yang panjang. Namun waktu, dengan caranya sendiri, menyeretnya kembali ke tanah tempat segalanya bermula. Dan di sana, semesta seolah tak memberinya pilihan lain selain menghadapi apa yang selama ini ia hindari-luka lama, tanya yang tak pernah terjawab, dan cinta yang mungkin belum benar-benar usai. Alvaro Nata Prabawa-tinggi, berwibawa, dengan wajah yang nyaris mustahil diciptakan tanpa sentuhan seni ilahi. Garis rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan sepasang mata tajam yang dapat membuat siapa pun yang ia tatap menjadi membeku dan terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin, nyaris menusuk. Tapi yang membuatnya terhenti sejenak adalah kenyataan bahwa gadis itu, gadis bermata hazel yang dulu selalu menatapnya dengan mata penuh kelembutan, kini membalas dengan sorot mata yang sama tajamnya. Sama menusuknya. Seolah waktu telah mengajarkan mereka bagaimana menjadi asing, mereka kini berdiri sebagai dua kutub yang tak saling mendekat, asing dalam bayang-bayang kenangan yang belum selesai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines