' EDELWEIS '

' EDELWEIS '

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 19, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Seorang wanita tinggi berkulit putih dan cantik memasuki sebuah ruangan yang sudah di tinggalkan pada tahun 2016. Ruangan itu kosong, dan berdebu tapi. Aroma dan kenangan di ruangan itu masih sama seperti dulu. Wanita itu berjalan maju dan membuka satu laci dan mengambil sebuah buku. Dia tersenyum, lalu sedikit tertawa, bersenandung, lalu menangis. menaruh buku itu, dia mengambil buku lain. Dia melihat sosok perempuan berambut gelombang dan berbulu mata lentik wanita cantik itu terlihat tersenyum lebar pada foto itu. " kamu cepet banget pergi. Selamat tidur Kebahagiaan ku. " " Kalian akan selalu ada di benak ku. Terimakasih telah hadir sebagai kebahagiaan untuku, Rumahku.. "
All Rights Reserved
#782
pramuka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear of Natasya
  • Ikhlas Yang Tak Mudah
  • If we can together
  • OUR BOOK
  • Hy Enemy! I MISS YOU. [LENGKAP]
  • Temporary |End|
  • Delvan

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines