Titik Minus

Titik Minus

  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 17, 2024
Seolah melawan narasi hadits yang mengatakan akal perempuan setengah dari akal laki-laki, Kiai Zakaria justru mempercayakan kepemimpinan pesantren Banin - Banat An-Na'im yang menaungi ratusan santri, kepada satu-satunya cucu perempuan yang ia miliki, yakni Zid. Padahal, sang Kiai masih memiliki menantu laki-laki, serta empat cucu laki-laki yang berperan aktif di masyarakat, bahkan terjun dakwah hingga mancanegara. Sebagai perempuan yang masih melajang di usia tiga puluh tiga tahun dan menyandang gelar pengasuh pesantren, serta berprofesi sebagai pengacara, Zid tentu kerap mendapat cibiran, baik di lingkungan sekitar pesantren, maupun di kantor hukum tempatnya bekerja. Tak jarang, wajahnya yang tidak seberapa cantik, dijadikan sebagai bahan olokan 'Zid tidak tahu diri.' Zid merasakan jatuh cinta kepada laki-laki, namun dari pengalaman mengasuh santri dan profesinya sebagai pengacara yang kerap mendapati berbagai kasus pelecehan berat serta kekerasan yang menimpa perempuan, membuatnya berpikir berulang kali sebelum melanjutkan kisah asmaranya ke jenjang pernikahan. Guncangan terhadap jiwa Zid semakin intens ketika yang menjadi korban justru orang-orang terdekatnya. Bagaimana Zid menghadapi dunia yang kerap tidak adil kepada perempuan? Seberapa kuat ia bertahan menjadi pemimpin sebuah lembaga pendidikan agama? Akankah ia menambatkan hatinya kepada salah seorang yang menyukainya, kemudian menikah, atau memilih melajang sepanjang usia?
All Rights Reserved
#950
santri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BAIT-BAIT TAKDIR
  • Ketika Wanita Yang Meminang
  • Kuterima Khitbahmu
  • Seindah Surga Yang Dirindukan (Tamat)
  • Cahaya Cinta.
  • SETENGAH HIJAB
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]
  • Cahaya Iman Gus Berandal (on going)

Azkiya tidak pernah menyangka hidupnya akan terikat dalam sebuah pernikahan yang asing. Di tengah kesibukannya menyelesaikan studi di luar negeri, ayahnya memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang pria pilihan yang tak pernah ia temui. Azkiya hanya mendengar nama samar suaminya, Hafiq, namun mempercayai keputusan sang ayah sebagai bentuk pengabdian. Di sisi lain, Hafiq, seorang santri bijaksana sekaligus tangan kanan Kiai Maulana, juga terikat dalam pernikahan yang baginya adalah amanah. Meski tidak tahu siapa istrinya, Hafiq menerima keputusan itu sebagai bagian dari takdir yang harus ia jalani dengan sepenuh hati. Akad berlangsung tanpa pertemuan, hanya diwakili oleh ayah Azkiya, Kiai Maulana, dan penghulu. Setelah itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa, tanpa Hafiq maupun Azkiya menyadari siapa sebenarnya pasangan hidup mereka. Ketika Azkiya dipulangkan ke Indonesia dan dimasukkan ke pesantren tempat Hafiq mengabdi, takdir mulai memainkan perannya. Keduanya menjalani kehidupan yang berseberangan, saling mengagumi dari kejauhan tanpa mengetahui bahwa mereka telah terikat oleh janji suci. Azkiya yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan Hafiq, tidak menyadari bahwa pria itu adalah suaminya sendiri. Hafiq pun tetap menjaga jarak dengan wanita yang ia kagumi, tanpa tahu bahwa ia telah bersumpah untuk melindunginya seumur hidup. Dalam bait-bait takdir yang penuh misteri, cinta mereka tumbuh tanpa disadari. Namun, rahasia yang tersimpan rapi mulai mendesak untuk terungkap. Akankah mereka menemukan jalan menuju cinta sejati, atau justru tenggelam dalam kebingungan antara amanah dan perasaan? "Bait-Bait Takdir" adalah kisah cinta Islami yang sarat emosi, tentang perjalanan dua insan yang dipertemukan dalam ketidaktahuan, dibimbing oleh keyakinan, dan dipersatukan oleh takdir yang tidak pernah mereka duga.

More details
WpActionLinkContent Guidelines