la sendirian terpaku melihat semua kekacauan. Akal sehatnya membeku menyaksikan hal yang ada di luar pikiran manusia. Jiho ketakutan melihat manusia yang memiliki tempat spesial di hatinya kini mematahkan leher manusia lain hanya dengan sekali remukan dengan kedua tangan yang berlumur darah. "Juyeon-aa?" tidak ada yang menyakitinya karena semua orang berpakaian lengkap pasukan elit hanya ingin mengalahkan pria itu. Dorrr.. "AAAHHHH" teriakan melengking saat peluru bersarang di perut Juyeon. Jiho bergetar ketakutan karena luka-luka Juyeon itu semakin banyak dan parah. Gadis itu ingin mendekat namun semua pasukan mengerumuni Juyeon. Begitu banyak pisau yang menembus tubuhnya. "Hikss lepaskan Juyeon hikss.." gadis lemah itu ingin menolong Juyeon yang sudah kehilangan banyak tenaga. Namun seorang dari pasukan tersebut menangkap Jiho. Juyeon yang bertahan dari semua pisau itu melihat tinjuan menghantam wajah cantik kekasihnya. "YAHHHH!" teriak Juyeon keras dan semua pasukan itu terhempas dari tubuhnya. Juyeon menarik pisau yang masih ada di perutnya begitu saja. Seluruh peluru di tubuhnya terdorong keluar oleh ototnya. Darah bercucuran namun pria itu bukan lagi OhJuyeon. Dia adalah monster yang marah dan lapar. Amarahnya meledak. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Pikirannya menjadi tak terkendali, suara-suara gelap itu mengatakan dirinya sangat lapar. Urat di lehernya menegang dan menonjol berubah warna menghitam. Seluruh bulu halus di kulit putihnya berdiri tegak. Tangannya siap untuk menerkam. Tubuhnya yang semula putih dengan noda darah kini berubah menjadi menghitam. Otot-otot nya kian mengeras. Dahinya berkerut dalam merasakan perubahan dalam tubuhnya. Garis-garis hitam semakin menyebar di seluruh tubuh termasuk leher yang kini menyebar ke sebagain wajah tampan itu.
Más detalles