Jodoh Jalur Pendidikan

Jodoh Jalur Pendidikan

  • WpView
    Reads 1,965
  • WpVote
    Votes 145
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 16, 2024
"Bismillahirrahmanirrahim.Yaa Raden Nadive Al-Faqih bin Salman Putra Al-Faqih.Ankahtuka wa zawajtuka maktubaka Silvi Rahma Adiva binti Keenan Rahma Wijaya,alal mahri 2 milyar rupiah haalan" "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan" "Sah?" "SAH!!" Kini Silvi putri bungsu dari Bapak Keenan resmi mengganti gelarnya dari seorang anak menjadi seorang istri tanpa sepengetahuannya. Awal niat ingin menuntut ilmu di luar kota tapi harus dinikahkan secara diam-diam karena sang ayah tak mau putri satu-satunya mengikuti pergaulan bebas. Jadi sang ayah harus menikahkannya dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya untuk menjaga dari jarak dekat,sebagai pengganti tanggung jawab sang ayah karena tak lagi dekat jaraknya dengan sang anak. Attention!!! Cerita murni pemikiran sendiri mohon maaf apabila ada kesamaan kata pada cerita lain🙏🙏. Happy reading all.
All Rights Reserved
#9
tesa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Antagonis Kesayangan Ku! END ✔️
  • Assalamu'alaikum, Ya Habibati (On Going)
  • Mengejar Cinta Ustadz (TAMAT)
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • Unspoken Word 2 [SELESAI]
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Rumah Kita -END-
  • Perjalanan Kisah Cinta Afia
  • [BL] Sudden Omega

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines