AFTER Butrs Those

AFTER Butrs Those

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 1, 2024
Cerita ini berawal dari ledakan dahsyat yang berkecepatan tinggi, hingga menyebabkan banyak nyawa melayang, dan hanya menyisakan sebagian yang mampu bertahan. Namun, siapa sangka jika setalah satu tahun dari ledakan itu muncul wabah mematikan yang membuat banyak nyawa gugur. Ini kisah tentang Aileen Nadhira keena, remaja berusia delapan belas tahun yang kehilangan keluarganya akibat wabah mematikan yang menyebar hingga ke penjuru Indonesia. Namun, siapa yang akan menyangka jika Nadhira yang dulu di anggap lemah yang hidupnya hanya bergantung pada kedua orang tuanya, kini ia selamat.
All Rights Reserved
#10
ledakan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Memory Of First Love [Completed] ✓
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • If It's You
  • LEITHLEACH
  • NESTAPA [On Going]
  • Angkasa dan Cerita
  • Putih Biru Dongker [END]

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines