Story cover for The Painless by kelvinariski
The Painless
  • WpView
    Reads 1,508
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 10
  • WpView
    Reads 1,508
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 10
Complete, First published Jan 19, 2024
Mature
Semuanya berubah saat aku berpamitan dengan keluarga tersebut. Mereka langsung menjadi aneh dan menahanku supaya tidak meninggalkan rumah tersebut dengan berbagai cara. 
"Terima kasih atas makanannya. Aku rasa aku harus pulang sekarang, terima kasih sekali lagi", ucapku sambil melipat serbet. 
"Kau tidak boleh pulang, kau sudah menjadi bagian keluarga kami sekarang", sahut wanita yang merupakan ibu di keluarga tersebut. 
Aku mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan keluarga ini, aku pun berusaha sebisa mungkin untuk bisa kabur dari rumah tersebut. 
"Giselleee", memanggil dengan suara lembut. 
"Dbuggg", suara pukulan.
All Rights Reserved
Sign up to add The Painless to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] by AYA_MNK
28 parts Ongoing
🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT
You may also like
Slide 1 of 9
Shadows of Love cover
Way To You (END) cover
Pertemanan di balik Kutukan [On Going] cover
Suddenly Marriage cover
My Mystirious Husband  (Complete) cover
BYE, MANTAN! (TAMAT) cover
Perpindahan Dimensi Sang Penulis  cover
Bloody Promise [Sudah Diterbitkan] cover
Springtime farming: A Happy Wife At Home  cover

Shadows of Love

57 parts Ongoing

Ketika kalian mendengar kata "pernikahan", apa yang terlintas dalam benak kalian? Kehidupan yang penuh cinta? Dua insan yang menyatu dalam harmoni? Atau barangkali, cinta sejati yang abadi? Namun, bagaimana jika kenyataannya berbeda? "Mari kita bercerai." Suara itu terdengar tegas, namun ada jejak kelelahan di dalamnya. "Bercerai?" Tanya itu meluncur, disertai kebingungan yang terpancar dari matanya. "Ya. Sudah cukup. Empat tahun kita hidup dalam kebersamaan yang terasa begitu asing." "Tidak." Jawaban itu datang dengan ketegasan yang tak terduga. "Kalau begitu, apa yang kau inginkan dariku?" Tanya itu nyaris seperti sebuah tantangan, dilontarkan dengan nada frustrasi. "Aku hanya pengantin pengganti... Kau tahu itu sejak awal. Tidak ada cinta, hanya kewajiban." Matanya bergetar, mencoba menahan emosi yang hampir tumpah. Pria itu menatapnya tajam, bibirnya menipis seolah sedang menahan sesuatu.