Story cover for Game On by kyiskoiwai
Game On
  • WpView
    Reads 1,070
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 1,070
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Mar 30, 2015
Mature
"Semoga kau tahan bekerja denganku." Ia sama sekali tak menghiraukan uluran tangan Ryan dan terus menatap genangan darah di atas permadani putih dihadapannya yang mulai di gulung para petugas. Ryan hanya bisa menarik kembali tangannya dan terdiam seribu bahasa. "Dan jangan panggil saya Pak, itu membuat saya merasa tua. panggil saya Alan."

Alan, seorang penyidik Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan catatan kinerja yang gemilang namun bersifat keras, masa bodo, sarkastik dan semua sifat manusia yang akan sangat dihindari orang tua jika memiliki seorang putra.

Ryan, anak bawang polos yang tak pernah ditugaskan kerja lapangan apalagi menangani suatu kasus harus menjadi ajudan pribadi Alan yang...brengsek.

Bisakah mereka mengungkap kasus pembunuhan seorang CEO perusahaan yang seakan tak berujung dan penuh intrik?

"Aku bahkan tak akan peduli jika kucing itu mati karena cara menyetirmu yang payah." Jawab Alan.


*Warning : ManxMan & Graphic Violence - Read with your own risk

KyisKoiwai
All Rights Reserved
Sign up to add Game On to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Obsessed : Project IRIS by matchaaluvv123
25 parts Ongoing
"They didn't fall in love. They were programmed." - - - Aeliana tumbuh sebagai wanita yang terlihat sempurna-tenang, cerdas, elegan. Namun ada bagian dari hidupnya yang hilang. Dikubur terlalu dalam untuk diingat, terlalu berbahaya untuk digali. Ketika bayangan masa lalu mulai bergerak, Ael menemukan dirinya terjebak dalam jaring rahasia bernama Proyek IRIS-sebuah eksperimen yang menyentuh batas kemanusiaan, emosi, dan kendali pikiran. Di antara pengkhianatan, manipulasi, dan obsesi yang membara, Ael harus berhadapan dengan dua pria yang mengikat takdirnya: Kael Renata-pria yang seharusnya ia lupakan. Elion-pria yang menolak melepaskannya. Di dunia tempat cinta bisa menjadi senjata, dan kebenaran berarti kematian, satu pertanyaan tak pernah berhenti menghantui: Apakah emosi yang ia rasakan benar-benar miliknya-atau hasil dari sebuah proyek yang tak pernah gagal? *** "Lepaskan aku," katanya tegas. "Kau tidak berhak mengatur hidupku. Atau hidup Kael." Untuk sesaat, Elion terdiam. Lalu rahangnya mengeras. "Berhak?" ulangnya rendah. "Aku yang memastikan namamu tidak dihapus saat eksperimen gagal. Aku yang mengalihkan perhatian sistem ketika datamu seharusnya dimusnahkan." Ia mendekat lagi, suaranya nyaris geraman. "Kau hidup karena aku mengizinkannya, Ael." Napas Ael tersendat, tapi ia tetap menatap Elion-keras kepala, menolak runtuh. "Kalau begitu bunuh saja aku," bisiknya. "Tapi jangan pakai Kael untuk mengendalikanku." Detik itu juga, tangan Elion menegang. Otot rahangnya menonjol. Matanya menyala oleh sesuatu yang lebih liar dari amarah-sesuatu yang mendekati kehilangan kendali. - - - Haloo teman-temaann, Cerita ini sama seperti sebelumnya, namun ada beberapa paragraf yag aku perbaiki dan terdapat sedikit perubahan Adegan dan Dialog, cuman ga ngerubah alur cerita kok. Selamat Membacaa...
Peneror by Mysticpens
14 parts Complete
Senja merambat perlahan di atas perbukitan, menyepuh sawah dengan semburat jingga. Di sebuah rumah sederhana di tepi desa, Andi Wijaya duduk termenung di beranda, matanya menerawang jauh ke cakrawala. Tangannya yang kasar menggenggam secangkir kopi, uapnya mengepul lembut menghangatkan udara dingin pegunungan. Andi, mantan pembunuh bayaran yang kini hidup tenang sebagai petani, tak pernah menyangka kedamaian yang ia bangun selama bertahun-tahun akan terusik. Istrinya, Sari, menghampiri dan menyentuh bahunya lembut. "Apa yang kau pikirkan, Mas?" tanya Sari dengan suara lembut. Andi menghela napas panjang. "Reyna. Sudah seminggu dia pergi berlibur ke Bali. Aku punya firasat buruk." Tepat saat itu, ponsel Andi berdering nyaring. Nomor tak dikenal. Dengan jantung berdegup kencang, ia mengangkatnya. "Halo, Pak Andi?" suara di seberang terdengar panik. "Ini Rani, teman Reyna. Kami... kami dalam masalah. Reyna diculik!" Dunia Andi seketika runtuh. Naluri pembunuhnya yang telah lama terkubur kini bangkit, menggeliat bagai ular berbisa siap menerkam mangsa. Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di Jakarta, tiga pria duduk mengelilingi meja, wajah mereka tegang. Satrio, si penipu ulung, memainkan kartu identitas palsu di tangannya. Bimo, hacker jenius, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Joko, petarung tangguh, bersandar di dinding, matanya awas mengawasi pintu. "Target kali ini bukan main-main," ujar Satrio, suaranya rendah dan serius. "Konglomerat Hendrik Tanaka. Pemilik imperium bisnis terbesar se-Asia Tenggara, sekaligus dalang dari sindikat perdagangan manusia." Bimo mengangguk, matanya tak lepas dari layar komputer. "Aku sudah meretas sistem keamanannya. Kita punya akses ke semua data pribadinya." "Bagus," Satrio tersenyum tipis. "Joko, kau siap?" Joko mengepalkan tinjunya. "Selalu siap. Kali ini untuk Kinar." Mereka bertiga, yang dikenal sebagai kelompok Peneror, telah lama menantikan momen ini.
You may also like
Slide 1 of 9
VALEN and The Guide of Shadow cover
Doubt [Yizhan] cover
i hate you bossy!  cover
Dormant [BL] cover
Obsessed : Project IRIS cover
MCI - Got Him! cover
4 PRINCE MAFIA [ON GOING] cover
Umbra Dominus cover
Peneror cover

VALEN and The Guide of Shadow

9 parts Ongoing

"Aku Nayla. Karyawan Baru yang bekerja di Valen Corp demi menyelamatkan ibuku. Kupikir, ini hanya tentang pekerjaan. Tapi Valen Corp bukanlah tempat biasa. Di balik gedung megah dengan sistem keamanan mutakhir, tersembunyi sesuatu yang bahkan logika pun tak bisa menjelaskan." "Di sini, semua orang tersenyum dengan lidah bercabang. Manipulasi tersembunyi di balik basa-basi. Dan aku, yang hanya ingin bertahan disini, justru menyaksikan hal yang tak seharusnya." "Malam itu, dunia kami terkunci, seolah-olah terlempar ke dimensi lain. Lalu mereka datang. Pembunuh berpakaian hitam, memburu darah, menghancurkan segalanya. Aku melihat orang-orang terbunuh. Aku melihat CEO kami dijadikan target." "Saat darah berceceran dan kebenaran runtuh, mataku... berubah. Seolah tahu jalan keluar. Seolah bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Mereka menyebutnya 'mata seorang Pemandu', mata yang dapat melihat dunia lain, kemampuan membaca jalur, membuka rahasia, dan menyembunyikan kerahasiaan yang tersembunyi di antara realita." "Dan kini keadaannya memburuku. Karena aku bukan hanya saksi. Aku adalah kunci."