namanya adalah Annisa, dia hanya sosok perempuan yang ingin menjaga pandangannya agar hatinya tak jatuh pada cowok yang salah, dengan cara yang salah juga. karena baginya, cinta itu dari mata turun kehati. kalau nggak lihat wajah cowoknya dengan mata mana bisa dia jatuh cinta?. itu pemikirannya setidaknya sebelum dirinya tiba - tiba jatuh cinta pada sosok lelaki yang muncul dalam mimpinya. lelaki yang bahkan tak dikenalnya, namun mampu menggetarkan hatinya hanya lewat mimpi. emang bisa semudah itu? hanya lewat mimpi? lalu siapa cowok itu?
" Kenapa ya aku kepikiran terus sama cowok dalam mimpiku itu?"
" Kamu Jatuh cinta kali !"
" Jatuh cinta? emang bisa jatuh cinta Sama cowok yang nggak aku tahu siapa dia, bahkan wajahnya pun lupa, jangankan wajahnya, Namanya pun ku tak tahu"
" Bisa lah, jika Allah telah berkehendak? Tuh contohnya kamu, lagian ya, terserah Allah dong mau meletakkan perasaan cinta dihati siapa dan lewat cara apa?"
" Iya juga sih, aku jadi penasaran sama cowok yang dihadirkan Allah dalam mimpiku itu, siapa ya dia?"
lantas apajadinya jika ternyata cowok yang muncul dalam mimpinya itu adalah cowok yang berada dekat dengannya, namun tak pernah di sadarinya. apalagi bisa ditatapnya setiap pagi,
" Masya allah, cobaan apa ini? padahal aku pengin menjaga pandanganku, tapi kenapa cowok yang ada dimimpiku itu, kini ternyata ada dihadapanku?, kalau gini mana bisa aku nahan buat nggak curi- curi pandang ke dia?," batinnya berteriak senang bercampur salah tingkah saat cowok tampan dimimpinya ternyata sekelas dengannya.
JANGAN LUPA FOLLOW YA...
terimakasih sudah mampir
Ada cinta yang tidak perlu diumbar,
cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan.
Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh.
Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan.
Dia pernah singgah.
Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi.
Pernah menjadi orang yang paling aku percaya.
Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh.
Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda...
Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku.
Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi.
Mungkin kami sedang menguji takdir.
Atau... mungkin takdir sedang menguji kami.
Karena jika benar cinta ini suci,
maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki.
Cukup dipercayakan kepada Allah.
Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya,
aku ingin bertanya satu hal:
"Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"