CANDRAMAWA

CANDRAMAWA

  • WpView
    Reads 124
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 28, 2024
Malam hari menjadi tempat paling melelahkan. Lelah memikirkan tentang hal yang tidak penting. Banyak hal yang seharusnya tidak untuk dipikirkan. Tentunya, terlalu memberatkan otak untuk berpikir juga tidak sehat. Dikala malam hidup terasa hitam dan putih. Dedaunan yang hijau terlihat abu. Seperti pikiranku saat ini, semuanya abu-abu. Kemana lagi aku akan melangkah. Sedangkan waktu semakin berputar, dan usia semakin bertambah. Mungkin banyak orang yang sama, namun apakah kita akan menjadi orang yang sama dengan diri kita sendiri seperti yang lalu. Aku tak membenci malam tiba. Dengannya aku tau pasti dan menyadari bahwa malam menjadi tempat paling melelahkan untuk berpikir. Sejenak merenung menunggu pagi tiba. Ku nikmati meskipun seperti menelan serbuk kopi tanpa air.
All Rights Reserved
#894
abstrak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Chapter of Chapters
  • Starlight Wonder
  • "Tatapan Terakhir yang Tak Kujadikan Pertanda"
  • Kebahagiaan Kecil Aralie. [ End ]
  • in ROOM
  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • Warna Langit (Blue Orangeade Sequel)
  • ALSENA
  • Sadness
  • Titik Yang Benar

Suatu hal bisa dianggap sebagai 'berlebihan' ketika ia menetap dalam memori atau memengaruhi kehidupan bagi mereka yang mengalaminya. Hal tersebut bisa berkembang menjadi sesuatu yang ingin terus-menerus diingat atau sebaliknya. Namun apa pun itu, selalu otak yang terpengaruh. "Kenapa?" tanya Rea. "Jelek," jawab Cava. Rea menghela napas, mengambil buku yang lain. "Kalau yang ini?" "No." Rea mengerucutkan bibirnya. "Padahal orang di X pada bilang buku ini bagus, lho, Cav." "No," Cava masih menolak dengan tidak peduli. Cava adalah salah satunya. Ia menjadi seseorang yang sangat berbeda sejak kejadian masa kecilnya. Ia pikir ia sudah lupa, nyatanya kejadian itu menjelma jadi mimpi yang menghantuinya setiap malam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines