Live Towards Happiness

Live Towards Happiness

  • WpView
    Reads 198
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 24, 2024
Savita seperti arti namanya matahari, gadis cantik nan lucu dengan senyuman sehangat dan secerah matahari menjalani hidup menuju kebahagiaan. "Hei lihat saja nanti, tubuhku akan meninggi dan saat itulah aku akan memukul kepalamu itu!" Sebalnya. "Apa aku sependek itu?" Chandra sama seperti bulan yang muncul di malam hari yang membuat siapa saja terpesona dengan keindahannya di langit yang luas. Laki-laki dengan sejuta pesona dengan pahatan wajah nyaris sempurna dipadukan sifat dinginnya yang mampu membuat siapa saja terpikat. "Aku tidak suka berbicara dengan orang pendek," berucap dengan ekspresi datarnya. "Tubuh pendek mu itu tidak akan membantu." Note :▫️First story by inabinaa ▫️Dilarang plagiat dalam bentuk apapun! ▫️Bahasa random
All Rights Reserved
#321
bulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Halaman Terakhir Untuk Gara [END]
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • 𝐁𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐭𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐋𝐚𝐧𝐠𝐢𝐭
  • 02. AePete - FEROMONE (END)
  • 180° [END]
  • CUTE GIRL ANTAGONIS [END]
  • Hi Crush! (udah selesai)
  • I'm Dio! (REPUBLISH)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines