Di tengah gemerlap lampu dan suasana Kota Medan yang indah, cerita cinta antara Refan dan Ankisa tumbuh dalam kebersamaan yang penuh liku-liku. Refan, pria dengan sifat emosional, pemarah, dan tegas, memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Sementara itu, Ankisa, seorang wanita cantik yang baik, pendiam, penurut, perhatian, dan penyayang, menjadi pilihan hati Refan.
Semua bermula saat Refan mengajak Ankisa untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya, Joal, Mohmar, dan Khairil, di sebuah cafe. Meskipun Ankisa adalah seorang yang pendiam dan introvert, dia memutuskan untuk nurut dan ikut serta dalam perjalanan malam itu. Meski sering menghabiskan waktu bersama, cinta di antara mereka berdua tumbuh secara perlahan. Meskipun Ankisa sudah merasakan perasaan cinta, dirinya masih ragu terhadap Refan karena sifat keras dan tegas yang dimilikinya.
Suatu malam yang tak terlupakan, hujan deras dan badai melanda kota. Ankisa mulai merasa cemas, takut, dan kedinginan. Namun, di saat itulah Refan menunjukkan sisi perhatian dan kelembutan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Refan dengan sigap menenangkan Ankisa, memberikan jaket jeansnya untuk melindungi ankisa dari dinginnya malam. Ankisa melihat usaha dan perhatian Refan dengan mata yang penuh keyakinan.
Dalam momen yang penuh romantisme di tengah badai, perasaan Ankisa mulai berubah. Malam itu menjadi titik balik di mana Ankisa mulai yakin bahwa di balik sifat keras Refan, terdapat kelembutan dan kehangatan hati yang sesungguhnya. Dengan berani, Refan kembali menyatakan perasaannya kepada Ankisa. Kali ini, Ankisa tidak menolak. Seiring dengan tetesan hujan yang merayakan kebahagiaan, keduanya resmi mengukuhkan hubungan cinta mereka.
Cerita ini menjadi bukti bahwa cinta dapat tumbuh di tengah-tengah perbedaan dan liku-liku kehidupan. Refan dan Ankisa menemukan harmoni dalam kontras kepribadian mereka, menciptakan kisah cinta yang indah di Kota Medan yang penuh dengan keindahan dan keajaiban.
"Aku yang bakal bawa Dhega."
"Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak?
"Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?"
Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama.
Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah.
Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya.
"Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."