Kutukan Pantak
Cerita ini berlatar di desa terpencil di pedalaman Kalimantan, tempat tradisi dan kepercayaan suku Dayak masih kuat. Denis, seorang pemuda kota yang meragukan budaya dan kepercayaan lokal, menghina patung-patung Dayak yang dianggap sakral. Sikap angkuhnya memicu sebuah kutukan dari roh leluhur yang mendiami desa tersebut.
Sejak mencuri patung pantak, Denis dihantui kejadian-kejadian misterius yang semakin menakutkan. Ia mencoba membuang patung itu, namun kekuatan gaib mencegahnya. Denis yang tadinya merasa diri paling rasional kini merasa takut dan mulai meragukan keyakinan dirinya.
Ia meminta bantuan Jeremi, teman yang memahami budaya Dayak. Jeremi menjelaskan bahwa patung pantak bukan sekadar benda kuno, melainkan benda sakral yang dihuni roh leluhur. Denis telah menyinggung roh tersebut dan harus menanggung akibatnya.
Perjalanan mereka untuk menenangkan roh dan melepaskan kutukan penuh tantangan dan bahaya. Kisah ini menunjukkan konflik antara kepercayaan tradisional dengan sikap modern yang keras kepala, serta konsekuensi yang dihadapi ketika meremehkan kepercayaan dan budaya lokal. Akankah Denis menyesali kesombongannya dan mau menerima nilai-nilai tradisional? Atau akankah kutukan pantak terus menghantui hidupnya?
Kisah ini mengingatkan kita tentang pentingnya menghormati budaya dan kepercayaan lokal, dan konsekuensi yang mungkin terjadi ketika kita meremehkannya.