HERIDA
  • WpView
    Reads 738
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 26, 2024
"Semua orang mempunyai rintangan,namun tak semua orang bisa bertahan"Herida Magata "Zav please anterin aku hari ini untuk jenguk mama" "Sorry Er gue ga bisa hari ini mau nganterin Asya beli novel dulu" "Zav ini bekal buat kamu ini aku sendiri loh yang memasaknya" "Maaf Er gue udah di bawain bekal duluan sama Asya" Menceritakan tentang seorang gadis yang selalu di terpa berbagai masalah.Namun, dipaksa mati-matian untuk tetap bertahan dengan segala luka yang ia dapatkan. Akankah ia menyerah atau tetap memilih menahan dan melewati segala rasa sakit yang Tuhan berikan? ━━━━━━━━━✬ ✭ ✮ ✰━━━━━━━━━
All Rights Reserved
#505
menyesal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Penuh Luka (On Going)
  • KEPERGIAN SENJA
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Teruntuk Luka [Completed]
  • ALXERO
  • Menyerah atau Bertahan?
  • My Nine Sisters
  • LIKE A FOOL

No copas! Cerita ini hanya fiksi, hasil ide saya sendiri! Kisah ini tentang seorang gadis muda yang hidup dengan luka batin yang mendalam akibat ayahnya membiarkan ibunya untuk wanita lain. Luka ini tidak hanya mempengaruhi ibunya, tetapi juga dirinya sendiri. Ia tumbuh dengan perasaan tidak cukup baik, merasa bahwa dirinya tidak cukup berharga di mata ayahnya. Ia harus menghadapi setiap masalah dan ucapan dari ayah nya dan wanita pelakor itu. Namun, di tengah-tengah kesedihan dan kekecewaan, ia berusaha untuk bangkit dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. Melalui perjalanan hidupnya, ia belajar untuk menerima keadaan dan memaafkan ayahnya, meskipun itu tidak mudah. Cerita ini adalah genre perjuangan, kesedihan, dan proses penyembuhan, serta bagaimana seseorang dapat bangkit dari keterpurukan dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri. ••• Dengan langkah cepat, Hendra menghampiri Melia yang melihat dirinya datar. "Apa yang kau lakukan, Melia?!" tanya Hendra dengan nada tingginya. Melia melirik pada Rina sebentar yang meringis kesakitan, lalu menatap Ayahnya lagi yang berada di hadapannya. "Ayah punya mata 'kan?" Melia bukan menjawab melainkan memberi pertanyaan. "Aku hanya berlatih melempar benda pada tempatnya kok," lanjutnya lalu melangkah pergi. "Melia!" Penasaran dengan alurnya? baca yok, jangan lupa follow dulu💋

More details
WpActionLinkContent Guidelines