About Them [ON GOING]

About Them [ON GOING]

  • WpView
    Reads 471
  • WpVote
    Votes 99
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 9, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Mereka memiliki trauma yang berbeda-beda namun dari sumber yang sama yaitu keluarga. Bukankah rumah itu seharusnya menjadi tempat perlindungan teraman? Bukankah rumah itu seharusnya menjadi tempat tinggal ternyaman? Bukankah rumah itu seharusnya menjadi tempat keluh kesah terbaik? Namun, rumah mereka dirusak oleh orang-orang egois. Apakah mereka masih pantas disebut sebagai orang tua? "Lukamu adalah sumber kekuatan mu." Mereka tidak tumbuh dengan kasih sayang, melainkan tumbuh dengan luka. Hingga sampai sekarang, luka mereka justru menjadi sumber kekuatan untuk mereka. Mereka harus kuat berdiri dan berjalan di atas duri tajam yang menusuk telapak kaki mereka. Start : 17 Juni 2024 Finish : - ⚠WARNING⚠ Hanya untuk umur 17+ karena di dalam cerita mengandung banyak kekerasan.
All Rights Reserved
#354
mentalillnes
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • RAGA TANPA RUMAH
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • BERISIK (END)
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Another Pain (END) ✔
  • Menyerah atau Bertahan?
  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Rintik Hujan
  • Semua Tentang Luka [ END ]

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines