Story cover for BECAUSE NOONA by maedaabbdul
BECAUSE NOONA
  • WpView
    Reads 2,020
  • WpVote
    Votes 150
  • WpPart
    Parts 5
  • WpView
    Reads 2,020
  • WpVote
    Votes 150
  • WpPart
    Parts 5
Ongoing, First published Jan 29, 2024
"Noona mau apa?"

"Kumohon jangan mendekat!" Tanya Ji-Sung pria itu mulai kelihatan panik dengan apa yang terjadi saat ini.

"Temani aku tidur, aku terbiasa tidur dengan memeluk seseorang dulu baru aku bisa tidur!" Ucap Karina, ucapan Karina membuat sistem kerja otaknya kembali tak berfungsi dengan baik hingga ia tak bisa berfikir tentang mana yang baik dan tidak baik, mengingat begitu banyak yang ia pikirkan saat ini.

"Noona, apa kau tau bahwa semua ini adalah salahmu!"

"Kalau saja kau tidak mabuk, semuanya pasti akan baik² saja!" Ji-Sung menarik kembali tangannya dan meluapkan marahnya pada Karina,pria itu mulai berdiri dan kedua matanya memerah menahan emosi. Ji-Sung menatap tajam Karina, sementara gadis itu hanya menatapnya polos membuat tingkat frustasi jisung semakin memuncak, dengan lemas ia kembali duduk disofa dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, dalam hidupnya ini pertama kalinya ia marah seperti ini, Karina benar-benar membuat emosinya meledak. Ia bahkan merasa sedikit bersalah karena sudah berteriak didepan Karina, gadis yang lebih tua 2 tahun darinya, harusnya ia tak membentak gadis itu namun itu tadi diluar kendalinya.
All Rights Reserved
Sign up to add BECAUSE NOONA to your library and receive updates
or
#19karinaespa
Content Guidelines
You may also like
It's Always Been You✔️  by WinterAurora00
44 parts Complete
Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?
You may also like
Slide 1 of 9
Rewrite The Star || NCT WISH {END} cover
Posesif-nim | JENO KARINA cover
first love bluesy cover
Just the Two of Us [SELESAI] cover
It's Always Been You✔️  cover
Sadewa (END) cover
Ghost And Love || Park Jisung and Ningning aespa cover
MEMORABLE [COMPLETE] cover
Salam untuk senja [SUDAH TERBIT] cover

Rewrite The Star || NCT WISH {END}

18 parts Complete

"Kalo tipe cowok elu gimana Er?" Lagi-lagi Jean bertanya. "Kenapa lo pengen tau? Lo mau nembak gw, hah?" Tanya Erika sambil tertawa kecil. "Lo mau gak?" Erika berhenti dari aktivitasnya lalu menatap lekat Jean. Terlihat wajah Jean, serius. Jujur, Erika takut sekarang. "Maksudnya?" Tanya Erika memastikan dengan wajah yang cukup serius. Siapa tau Jean mabuk dan ngelantur. "Hahahaha bercanda kali Er. Gak usah gitu mukanya kali" ucap Jean sambil tertawa kecil. Tanpa disadari, semburat merah muncul di kedua pipi Erika. 'Et dah neng' *Yang penasaran, cuss aja gak usah malu-malu*