Seraphic Home | XODIAC

Seraphic Home | XODIAC

  • WpView
    Reads 2,044
  • WpVote
    Votes 305
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 9, 2024
WpInfo
Fanfic
NCT
Tentang delapan anak laki-laki yang mempunyai luka dan trauma karena keluarga. Berusaha menerima takdir yang sama sekali tidak mereka inginkan. Di sebuah panti asuhan, mereka dipertemukan untuk saling menguatkan, bersama-sama menyembuhkan luka dan memulai cerita baru dengan harapan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kehadiran Aluna membuat mereka mulai sembuh secara perlahan. Rasa sayang yang tumbuh seiring berjalannya waktu membuat hubungan mereka semakin erat. Aluna hadir untuk membantu mereka bangkit dari keterpurukan. Keluarga baru yang mampu membuat hidup mereka yang semula gelap, menjadi lebih berwarna. "Diantara kalian, gak ada yang menyimpan perasaan lebih untuk Aluna, kan?" tanya Hayden memastikan. "Gue," jawab Liam dengan lantang. Ketujuh cowok itu langsung menoleh secara bersamaan pada Liam dengan tatapan bertanya-tanya. "Gue lebih sayang Aluna dari pada nyawa gue sendiri," sambung Liam membuat mereka bernafas lega. Shaka mengangguk setuju. "Gue rasa, kita semua punya perasaan yang sama buat Aluna." "Gue titip Aluna," ucap Liam tiba-tiba. "Maksud lo?" tanya Bian. Liam menghela nafas berat seraya menatap kosong ke depan. "Gue izin pamit dari rumah ini." Namun, ternyata kebahagiaan itu hanya sementara. Penderitaan mereka masih terus berlanjut. Ada banyak luka baru yang sudah menunggu mereka. Bukan hanya kedelapan cowok itu, tetapi juga orang-orang baru di hidup mereka.
All Rights Reserved
#411
cool
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Sejenak Luka
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]
  • Shena Aquella {SELESAI}.

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines