Mata Cantika

Mata Cantika

  • WpView
    Leituras 27
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, fev 5, 2024
WpInfo
Ficção
Terror
Cantika namaku. Aku hanya seorang wanita usia 25 tahun biasa. Namun kehidupanku yang sulit menjadi rumit gara-gara mata "setan" yang melekat di mataku ini Membuatku bisa melihat makhluk halus. Menyeretku ke dalam masalah "sialan" setiap hari. Belakangan kuketahui.... Yaaaa..... Belakangan banget.... .. Setelah semua kesulitan hidupku...... Baruku ketahui, semua peristiwa ini ada sangkut pautnya dengan perjanjian leluhurku di zaman dahulu. Sekarang aku yang harus memenuhinya. Kenal sama leluhur yang buat janji juga eeeeng...gaaaakkk! Napa aku yang harus menepati? Kamfffreeeettt... Berasa jadi korban banget. Makanya kalian tuh jangan gampang berjanji. Kampretkan jadinya. Minta maaf kepada emak kelelawar, anak lu si kampret jadi kebawa-bawa. Aamiin..... Lhaa amin, emangnya tadi gua lagi berdoa? *** Sebagian besar ilmu, ajian dan makhluk yang ada di dalam novel ini adalah nyata dan benar adanya di dunia kita. Jika ada sebagian yang tidak disebutkan sumbernya oleh author, karena memang menggunakan bahasa author sendiri tanpa mengurangi deskripsi dari kenyataan yang ada.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • C
  • I See You [COMPLETE]
  • Kathréftis {καθρέφτης}|| End✓
  • Meneroka Jiwa 2
  • sraddah (on going)
  • psychologycal
  • THE MYSTERY OF MY [BOSS'S] WIFE [COMPLETED]
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • Tanya Pada Waktu (On Going)
C

"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo