"Cinta bukan soal siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang paling jujur pada rasa sakitnya."
Raya mencintai Al.
Dengan sabar, dengan diam, dengan tangis yang selalu disembunyikan.
Ia menunggu, berharap, dan berjuang walau perlahan, ia kehilangan dirinya sendiri.
Al tak pernah benar-benar pergi. Tapi kehadirannya pun tak pernah utuh.
Kata-kata manis tak pernah keluar dari bibirnya. Tapi tangannya selalu siap memberi.
Di antara dingin yang membeku, Raya mulai bertanya:
Apakah bertahan layak diperjuangkan jika dirinya sendiri tak pernah dianggap?
Ini bukan kisah tentang siapa yang bersalah.
Ini kisah tentang mencintai seseorang... dan pada akhirnya, memilih untuk mencintai diri sendiri.