Bekerja-tidur-makan-PDKT, begitu seterusnya. Hidup Malaya Kartika sederhana, setidaknya menurut versinya sendiri.
Menjadi editor di perusahaan penerbit milik sahabat masa kecilnya, Raden Ananta Grahasa, membuat harinya tak pernah benar-benar sepi.
Baginya, uang adalah cinta sejati, dan sahabat adalah rumah paling aman. Tapi bagi Anta, Malaya adalah satu-satunya rumah yang pernah ia inginkan.
Mereka berteman sejak lama, tumbuh bersama, bahkan saling hafal nada dengus satu sama lain. Tapi ketika Anta memutuskan untuk melangkah lebih jauh, Malaya memilih berlari sejauh mungkin.
Dalam tawa, lelucon, dan perdebatan sehari-hari, perlahan rahasia masa lalu, luka, dan cinta yang tak sempat diucap mulai muncul ke permukaan.
Anta hanya ingin Malaya menoleh sedikit saja agar ia tahu, cinta yang dulu ditolak itu masih sabar menunggu di tempat yang sama.
*****
"Antaa ... gue lagi gamon tau!!"
"Siapa lagi korban kamu?"
"Enak aja korban! ini gue loh yang jadi korban!"
*****
"Ga mungkin lah gue sama Anta jodoh! yang benar aja!"
"Udah sama-sama dari orok, masa gak jodoh! Rugi dong!"
*****
"Gimana rasanya? Ada manis-manisnya ga?"
"Apa?"
"Bekas bibir gue?"
*****
050224
All Rights Reserved